Sidoarjo, Blok7.id – Dugaan keracunan makanan bergizi gratis (MBG) yang dialami 556 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, Jawa Timur, memicu sorotan terhadap pengawasan penyedia makanan.

Pakar kesehatan masyarakat Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) Dede Nasrullah meminta pemerintah memperketat pengawasan terhadap satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG). Menurutnya, pengawasan tidak cukup dilakukan setelah muncul persoalan.

Dede menilai seluruh tahapan penyediaan makanan harus diperiksa. Mulai dari pengadaan bahan, proses pengolahan, penyimpanan, hingga makanan sampai ke tangan penerima manfaat.

Ia juga meminta pemerintah tidak ragu menjatuhkan sanksi kepada SPPG yang terbukti melanggar standar Badan Gizi Nasional (BGN).

Menurut Dede, penangguhan operasional bukan satu-satunya pilihan. Jika pelanggaran yang ditemukan tergolong serius, sanksi dapat berlanjut hingga penghentian total.

“Program MBG ini merupakan program yang bagus dan harus didukung. Namun, pengawasan harus dilakukan secara maksimal agar kejadian keracunan tidak terus berulang dan kepercayaan masyarakat terhadap program ini tidak hilang,” katanya, Kamis (3/9/2026).

Tak hanya pengawasan dari pemerintah, Dede mendorong keterlibatan pihak independen dalam mengawasi pengelolaan SPPG. Kehadiran pihak independen dinilai penting untuk memastikan pemeriksaan keamanan pangan dilakukan secara objektif.

“Agar kasus serupa tak terulang, sudah waktunya pemerintah melibatkan pihak independen untuk mengawasi pengelolaan SPPG,” imbuhnya.

Dede mengingatkan penyebab dugaan keracunan tidak bisa serta-merta diarahkan pada satu titik. Ada banyak kemungkinan yang harus ditelusuri sebelum kesimpulan dibuat.Pemeriksaan, kata dia, perlu mencakup kondisi bahan makanan ketika diterima SPPG, proses pencucian, pengolahan, pemasakan, penyimpanan, hingga distribusi.

Kondisi wadah makanan serta proses pengiriman juga perlu diperiksa. Rangkaian pemeriksaan tersebut diperlukan untuk menemukan di mana kemungkinan kontaminasi terjadi.

“Semua proses harus diperiksa. Kalau ditanya penyebabnya apa, banyak, bisa dari sanitasinya, mulai dari bahan makanan, proses memasak, penyimpanan, sampai makanan diterima dan dikonsumsi,” ujarnya.

Kasus ini bermula ketika ratusan santri Ponpes Manbaul Hikam mengalami sejumlah keluhan setelah mengonsumsi makanan MBG pada Selasa (1/9/2026).

Sebanyak 556 santri dilaporkan mengalami keluhan seperti mual, sakit perut, muntah, dan lemas. Gejala tersebut mulai dirasakan beberapa jam setelah makanan disantap.

Jumlah santri yang mengalami keluhan kemudian bertambah. Sebagian di antaranya mendapat penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan.

Merespons kejadian tersebut, BGN menjatuhkan sanksi suspend berat selama 30 hari terhadap SPPG Kalitengah, Tanggulangin, Sidoarjo.

BGN juga mengusulkan pencopotan kepala SPPG tersebut. Investigasi turut dilakukan untuk mencari tahu penyebab dugaan keracunan.

Bagi Dede, hasil investigasi nantinya tidak boleh berhenti pada penentuan penyebab. Temuan tersebut harus menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem pengawasan dan mencegah kejadian serupa terulang.

Dede menegaskan keamanan pangan harus menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan MBG. Pengawasan yang ketat diperlukan agar kualitas makanan tetap terjaga sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap program tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!