Blok7.id – Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali erupsi dengan intensitas cukup tinggi. Aktivitas erupsi terus berlangsung dan disertai semburan lava serta suara dentuman.
Suara dentuman bahkan terdengar hingga sejumlah wilayah pesisir Banten dan Lampung. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama jika terjadi hujan abu vulkanik.
Lantas, apa yang harus dilakukan ketika abu vulkanik turun? Berikut 10 tips yang penting diketahui masyarakat.
1. Gunakan masker saat keluar rumah
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah melindungi saluran pernapasan dari paparan abu vulkanik.
Sebaiknya kurangi aktivitas di luar ruangan selama terjadi hujan abu. Jika harus keluar rumah, gunakan masker yang dapat menyaring partikel dengan baik.
Semakin tebal abu yang beterbangan, semakin penting perlindungan terhadap saluran pernapasan.
2. Kurangi aktivitas di luar ruangan
Jika tidak ada kebutuhan mendesak, tetaplah berada di dalam rumah ketika abu vulkanik sedang beterbangan.
Membatasi waktu di luar ruangan dapat membantu mengurangi jumlah partikel abu yang terhirup, terutama bagi masyarakat di wilayah dengan paparan abu cukup tebal.
3. Tutup pintu, jendela, dan ventilasi
Abu vulkanik juga bisa masuk ke dalam rumah melalui celah pintu, jendela, dan ventilasi.Saat abu mulai turun, tutup akses udara dari luar sebanyak mungkin.
Langkah ini juga menjadi salah satu imbauan pemerintah setelah sebaran abu vulkanik terdeteksi mencapai sejumlah wilayah.
4. Jangan menyapu abu dalam keadaan kering
Abu yang menempel di lantai, halaman, atau permukaan lainnya sebaiknya dibersihkan menggunakan cara basah.
Menyapu abu dalam kondisi kering justru dapat membuat partikel halus kembali beterbangan dan meningkatkan risiko terhirup. Basahi terlebih dahulu permukaan yang terkena abu sebelum membersihkannya.
5. Lindungi mata
Abu vulkanik tidak hanya mengganggu pernapasan, tetapi juga dapat menyebabkan iritasi mata.Jika harus berada di luar ruangan, gunakan kacamata pelindung. Apabila mata terkena abu, jangan digosok. Segera bilas menggunakan air bersih.
Jika iritasi terasa berat atau tidak kunjung membaik, segera cari pertolongan medis.
6. Tutup makanan dan minuman
Abu yang beterbangan dapat menempel pada makanan, minuman, hingga peralatan makan.
Karena itu, segera tutup makanan dan minuman yang berada di luar atau dekat area terbuka. Bersihkan pula permukaan yang digunakan untuk menyiapkan makanan apabila terkena abu.
7. Pengendara perlu ekstra hati-hati
Abu vulkanik dapat mengurangi jarak pandang dan membuat permukaan jalan menjadi licin. Kondisi tersebut bisa meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi pengendara sepeda motor.
Jika kondisi jalan tidak memungkinkan, sebaiknya tunda perjalanan yang tidak mendesak.
8. Jangan abaikan sesak napas
Perhatikan kondisi tubuh setelah terpapar abu vulkanik. Batuk, iritasi mata, hingga gangguan pernapasan dapat muncul setelah paparan.
Jika mengalami sesak napas, iritasi mata berat, atau keluhan kesehatan lainnya, segera menjauh dari area yang terpapar dan cari pertolongan medis.
9. Pantau informasi resmi
Arah sebaran abu vulkanik dapat berubah mengikuti kondisi angin dan atmosfer. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak hanya mengandalkan informasi yang beredar di media sosial.
Pantau informasi terbaru dari BMKG, PVMBG/Badan Geologi, BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah.Perlu diketahui, wilayah yang masuk dalam analisis sebaran abu belum tentu sama dengan wilayah yang benar-benar mengalami hujan abu di permukaan.
10. Perbanyak doa
Selain melakukan langkah-langkah untuk menjaga keselamatan, masyarakat juga dapat memperbanyak doa agar aktivitas Gunung Anak Krakatau segera mereda dan seluruh warga yang terdampak selalu diberikan keselamatan.
Itulah 10 tips yang dapat dilakukan ketika abu vulkanik turun. Masyarakat tetap perlu tenang, waspada, dan mengikuti arahan dari pihak berwenang.
