Spread the love

BLORA, Blok7.id – Gelombang kemarahan petani tebu Blora belum padam. Sekretaris II APTRI Blora, Agus Joko Susilo, menegaskan bahwa situasi saat ini memang terlihat mereda, namun bukan berarti persoalan selesai.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Ia menilai banyak pihak yang berkepentingan sekaligus ketakutan jika aksi besar benar-benar meledak.

“Wacananya masih ada waktu. Tapi kalau petani sudah bergerak, pasti ada yang takut. Dari semua ini jelas, banyak kepentingan dan ketakutan,” tegas Agus, melalui pesan singkat WhatsApp, Sabtu (7/2/2026) malam.

Menurutnya, upaya peredaman dilakukan sebelum gelombang aksi terjadi. Agus mengungkapkan dirinya dan tim dipanggil langsung ke Dewan Pengawas Bulog di Jakarta untuk menyampaikan duduk persoalan yang sebenarnya.

Keberangkatan dijadwalkan Minggu (8/2/2026) usai Subuh, didampingi langsung oleh Bupati Blora Arief Rohman.

“Kita dan tim dipanggil dan mau didengar. Kenapa sampai persoalan ini jadi seperti sekarang. Kita dan tim ingin audiensi dengan Dewas Bulog Jakarta, karena kalau sampai demo terjadi, itu repot. Yang datang ribuan orang,” ujarnya.

Agus menegaskan bahwa rencana aksi memang belum resmi berjalan. Surat izin demo belum diterbitkan dan belum dikeluarkan oleh aparat penegak hukum. Namun, menurutnya, langkah menemui Dewas Bulog menjadi upaya terakhir agar persoalan tidak semakin membesar.

“Ini belum demo. Tapi sebelum itu terjadi, kita harus sampaikan dulu ke pusat. Malam ini juga kita dan tim sudah ketemu Pak Bupati Blora,” imbuhnya.

Ia menyebut para pejabat di tingkat atas sebenarnya ingin diajak duduk bersama dan bermusyawarah. Namun Agus mengingatkan, tanpa kejelasan dan bukti nyata, petani khawatir kembali diprank seperti pengalaman sebelumnya.

“Kalau tidak diberitakan, takutnya kita diprank lagi. Sudah berkali-kali. Janjinya banyak, realisasinya molor terus. Pekerjaannya hanya rapat, rundingan, tapi petani disuruh sabar,” katanya.

Agus menyampaikan kekecewaan mendalam terhadap para pemangku kebijakan di Pabrik GMM yang dinilai tidak memahami karakter petani Blora dan besarnya kerugian yang ditanggung petani.

“Petani itu tidak sabar. Mereka tidak tahu karakter petani Blora itu bagaimana. Mereka juga tidak mikir kerugian petani itu berapa miliar,” ujarnya lantang.

Ia membeberkan data kerugian akibat tebu yang tidak tertebang pada 2025. Jika satu hektare bernilai sekitar Rp40–50 juta, maka 100 hektare saja sudah mendekati Rp10 miliar. Bahkan jika mencapai 500 hektare, kerugian bisa menembus Rp25 miliar.

“Sementara mereka di pabrik tetap gajian. Isinya apa? Rapat, rundingan, itu saja. Kalau ini disampaikan ke petani, ya wajar petani emosi,” tegas Agus.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa keberangkatannya bersama tum ke Jakarta bukan untuk mencari konflik, melainkan memperjuangkan keadilan bagi petani agar kerugian tidak terus berulang.

“Intinya, besok saya dan tim berangkat ke Jakarta menghadap Dewas Bulog, didampingi Pak Bupati Arief Rohman. Petani hanya ingin kejelasan dan tanggung jawab,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua APTRI Blora Sunoto membenarkan akan hal tersebut.

“Betul, besok pagi tim bersama pak Bupati akan berangkat ke Jakarta,” tandasnya.

Turut hadir, Ketua APTRI Blora Sunoto, Sekretaris I Anton Sudibyo, Sekretaris II Agus Joko Susilo serta Penasehat APTRI Bambang Sulistya.

(Redaksi/Hans)

error: Content is protected !!