Spread the love

Jakarta. Blok7.id – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) angkat suara terkait bencana banjir dan longsor yang menerjang sejumlah wilayah di Sumatera dalam beberapa hari terakhir.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Cuaca ekstrem menjadi pemicu utama, dan pemerintah menegaskan fokus saat ini adalah penanganan warga terdampak serta pemulihan wilayah.

“Kami di Kementerian ESDM menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah di Sumatera. Prioritas utama pemerintah saat ini adalah penanganan warga terdampak dan pemulihan wilayah,” kata Plt. Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria di Jakarta, Sabtu (29/11).

Lana menjelaskan bahwa bencana di lima kabupaten Humbang Hasudutan, Agam, Mandailing Natal, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara dipicu tiga faktor utama. Curah hujan tinggi hingga ekstrem menjadi faktor dominan, sementara kondisi geomorfologi yang curam serta litologi yang lapuk memperbesar risiko longsor dan banjir.

“Peningkatan kapasitas masyarakat desa rawan bencana melalui identifikasi tanda awal longsor, jalur evakuasi, serta revitalisasi vegetasi lereng menjadi fondasi pencegahan di tingkat tapak. Pengendalian tata guna lahan pada lereng curam termasuk pembatasan pembukaan lahan baru dan perbaikan drainase permukaan merupakan langkah struktural yang sangat menentukan dalam menurunkan risiko pada kawasan permukiman,” jelasnya.

Ia menambahkan, longsor di dua kabupaten di Sumatera Utara umumnya terjadi di kawasan perbukitan curam hingga sangat curam yang mengelilingi Kota Sibolga, terutama di sisi timur–selatan.

“Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah, secara umum Kota Sibolga berada pada zona potensi gerakan tanah menengah-tinggi, yang berarti wilayah ini dapat dan atau sering mengalami kejadian gerakan tanah,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani. BMKG mencatat perkembangan signifikan Bibit Siklon Tropis 95B yang muncul sejak 21 November 2025 di perairan timur Aceh dan Selat Malaka.

Fenomena ini meningkatkan potensi hujan lebat hingga ekstrem serta angin kencang di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, dan wilayah sekitarnya.

“Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem akibat dampak dari Bibit Siklon 95B. Saat ini BMKG terus memantau intensitas 95B dan meminta stakeholder terkait untuk memastikan langkah mitigasi demi meminimalisir hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Selain itu, BMKG juga mendeteksi keberadaan Meso Siklon Konvektif Kompleks (Mesoscale Convective Complex/MCC) di Samudra Hindia barat Sumatra. Sistem badai petir berskala besar ini berpotensi memicu bencana susulan, terutama di Mandailing Natal, Sumatera Utara, dan sebagian besar wilayah Sumatera Barat.

MCC dikenal mampu menghasilkan hujan sangat lebat dalam durasi panjang disertai angin kencang hingga hujan es.

error: Content is protected !!