Semarang. Blok7.id – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah resmi membuka Program Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren Tahun 2026.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Program ini memberi kesempatan santri asal Jateng melanjutkan pendidikan tinggi, tak hanya di dalam negeri, tetapi juga hingga ke luar negeri, mulai dari Timur Tengah sampai Asia Timur.
Program beasiswa tersebut dikelola oleh Lembaga Fasilitasi dan Sinergis Pesantren (LFSP) Jawa Tengah yang dibentuk melalui keputusan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.
Ketua LFSP Jawa Tengah, Profesor Dr KH Hasyim Muhammad, menyebut program ini sebagai salah satu prioritas Pemprov Jateng untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi kalangan pesantren.
“Program ini hadir dalam bentuk bentuk pemerintah provinsi bagi pesantren. Santri tidak hanya didorong kuliah di dalam negeri, tetapi juga diberi kesempatan menempuh pendidikan tinggi di luar negeri,” kata Hasyim saat rilis Petunjuk Teknis (Juknis) Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren di Kantor Gubernur Jateng, Semarang, Rabu (4/2/2026).
Banyak Skema BeasiswaProgram ini mencakup berbagai jenjang dan skema. Untuk dalam negeri, tersedia Beasiswa Santri Vokasi dan Program Studi Strata 1 (S1) pada bidang kedokteran, pertanian, sains, teknologi, teknik, matematika, serta keislaman.
Seluruhnya berlaku di perguruan tinggi negeri dan swasta di Jawa Tengah yang telah menandatangani Nota Kesepakatan dengan Pemprov Jateng.
Untuk luar negeri, LFSP memfasilitasi Beasiswa Santri vokasi dan S1 di bidang kedokteran, pertanian, sains, teknologi, teknik, dan matematika pada kampus-kampus di Turki, India, Jepang, Korea Selatan, Cina, Taiwan, Malaysia, Thailand, Filipina, serta negara lain yang memenuhi kriteria LFSP.
Selain itu, tersedia juga program S1 luar negeri Double Degree dengan bidang studi serupa dan negara tujuan yang sama.Di bidang keislaman, santri bisa melanjutkan studi S1 luar negeri ke Universitas Al Azhar Mesir, Universitas Al Ahqof, dan Universitas Imam Syafi’i Yaman.
Sementara itu, untuk pengasuh pesantren, disediakan program beasiswa S2 dan S3 dalam negeri pada bidang keislaman, humaniora, kedokteran, sains, dan teknologi, di perguruan tinggi yang telah bekerja sama dengan Pemprov Jateng.
Program ini tidak hanya fokus pada pendidikan, tetapi juga pengabdian. Para penerima beasiswa diwajibkan kembali ke pesantren asal setelah lulus.
“Ini menjadi bagian dari latihan pemberdayaan masyarakat.Ilmu yang diperoleh harus kembali ke pesantren dan masyarakat,” ujar Hasyim.
Adapun asa pengabdian minimal berlangsung selama satu tahun. Dari sisi pembiayaan, pemerintah menanggung berbagai komponen, mulai dari uang kuliah tunggal (UKT), biaya hidup, visa, tiket pesawat, hingga asuransi. Besarannya disesuaikan dengan standar maksimal tiap program studi.
Untuk program S1 dalam negeri, UKT diberikan hingga delapan semester, dengan nominal tertinggi untuk bidang kedokteran sebesar Rp 15 juta per semester.
Seleksi penerima beasiswa dilakukan secara berlapis, mulai dari verifikasi administrasi, seleksi akademik, hingga wawancara. Kemampuan membaca kitab kuning menjadi syarat utama. Santri dengan hafalan Al-Qur’an mendapatkan nilai tambah.
Aspek wawasan kebangsaan dan kepesantrenan juga menjadi komponen penting dalam penilaian.
Pendaftaran beasiswa dibuka mulai 18 Februari 2026. Jadwal seleksi dan pengumuman disesuaikan dengan masing-masing jenis program. Seluruh proses pendaftaran dilakukan secara daring, dan hasil seleksi diumumkan melalui laman resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Koordinator Bidang Beasiswa dan Pelatihan LFSP Jawa Tengah, Profesor Akhmad Syakir Kurnia, menegaskan pentingnya akuntabilitas para penerima beasiswa di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen.
Setiap penerima wajib menyampaikan laporan perkembangan studi setiap semester, serta laporan akhir setelah lulus. Kewajiban pengabdian di pesantren asal juga menjadi bagian tak terpisahkan dari program ini.
Dia juga menekankan bahwa santri tidak hanya dibentuk secara akademik, tetapi juga karakter.
“Bayangkan lahirnya dokter, insinyur, atau ilmuwan lulusan luar negeri, yang juga memiliki watak santri yang santun. Ini yang ingin dibangun Jawa Tengah,” ujarnya.
