Spread the love

BLORA, Blok7.id – Suasana tenang di sebuah Sekolah Dasar Negeri (SDN) di wilayah Kelurahan Kedungjenar, Kecamatan Blora Kota, mendadak ricuh usai dua murid terlibat adu jotos pada Sabtu (1/11/2025).

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Perkelahian yang sempat terekam video berdurasi sekitar satu menit itu beredar luas di media sosial dan memicu keprihatinan publik atas maraknya kekerasan di lingkungan pendidikan dasar.

Dalam video yang diterima redaksi, tampak dua siswa berseragam pramuka berhadapan dengan ekspresi tegang. Salah satu siswa yang bertubuh lebih besar tampak membawa tas ransel.

Awalnya, keduanya sempat saling menahan diri, namun ketegangan pecah ketika mereka saling dorong dan bergumul hingga terjatuh ke lantai.

Aksi itu baru berhenti setelah salah satu dari mereka menyerah, sementara yang lain berjalan menjauh meninggalkan lokasi.

Kepala Sekolah, Maskariyana, ketika dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, membenarkan peristiwa tersebut.

“Nggih (Ya-Red) kejadian hari Sabtu (1/11/2025) kemarin dan sudah rukun kembali seperti biasa. Sudah saya selesaikan hari Senin, ternyata anaknya sudah baikan lagi, saling memaafkan. Sekarang malah berteman baik banget,” ujarnya, Sabtu (8/11/2025).

Meski pihak sekolah menegaskan masalah telah diselesaikan secara kekeluargaan, insiden ini menyisakan tanda tanya soal pembinaan dan pengawasan terhadap siswa.

Apalagi, berdasarkan penelusuran Blok7.id, sekolah tersebut sebelumnya pernah diterpa dugaan kasus perundungan berat sekitar dua bulan lalu.

Dalam kasus sebelumnya, seorang siswa berkacamata disebut sempat ditendang oleh teman sekelasnya hingga terjatuh dan kacamatanya pecah. Serpihan kaca bahkan mengenai bawah mata korban.

Beda waktu, tak lama berselang kira – kira 2 bulan, saat hendak pulang, korban disebut tidak disebrangkan petugas sekolah dan akhirnya tertabrak sepeda motor hingga kedua kakinya patah.

Hingga kini, siswa tersebut belum kembali bersekolah, dan keluarganya berencana memindahkan anak mereka ke sekolah lain.

Orang tua korban mengaku merasa terdholimi atas serangkaian peristiwa yang menimpa anaknya dan menilai pihak sekolah kurang tanggap dalam melindungi murid.

Kejadian ini menambah catatan kelam potret kekerasan di sekolah dasar, di mana penyelesaian damai kerap dijadikan solusi cepat tanpa menyentuh akar persoalan, yakni lemahnya pengawasan, budaya saling ejek, dan minimnya pendidikan karakter di lingkungan sekolah. (Hans)

error: Content is protected !!