JAKARTA, Blok7.id – Anggota Komisi III DPR RI Hinca Panjaitan menyampaikan analogi unik namun sarat makna saat menanggapi sorotan publik terhadap peran Polri yang belakangan dinilai semakin luas, termasuk dalam isu ketahanan pangan.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Dalam sebuah video yang beredar, Hinca mengibaratkan institusi Polri seperti tanaman jagung, satu batang, namun menghasilkan ratusan biji dengan daya jangkau hingga ke pelosok negeri.
“Institusi Polri itu sebenarnya mirip jagung. Satu batang, tapi bisa menghasilkan ratusan biji. Satu tongkol saja isinya lebih dari 600. Artinya, Polri itu satu komando, tapi daya jangkauannya luas sekali sampai ke pelosok-pelosok daerah,” ujar Hinca.
Ia menjelaskan, struktur komando tunggal Polri justru menjadi kekuatan utama dalam menjangkau wilayah-wilayah terpencil, perbatasan, hingga pulau terluar, sebuah kemampuan yang tidak dimiliki semua institusi negara.
Dalam analoginya, Hinca menyebut batang jagung sebagai Kapolri, sementara matahari yang menyinari diibaratkan sebagai Presiden Prabowo Subianto.
“Batang jagung itu Kapolri, ia disinari matahari. Matahari itu Presiden Prabowo. Jadi sudah benar,” katanya.
Lebih jauh, Hinca menilai jagung sebagai tanaman yang adaptif dan tidak rewel, mampu tumbuh di berbagai jenis tanah. Karakter itu, menurutnya, mencerminkan watak Polri yang dapat ditempatkan di mana saja dan tetap berfungsi optimal.
“Jagung tumbuh di hampir semua jenis tanah. Persis seperti polisi, ditempatkan di mana pun bisa adaptif. Yang penting diberi mandat dan sedikit pupuk kepercayaan, ia akan tumbuh dan memberi hasil,” ujarnya.
Tak hanya sebagai sumber pangan, jagung juga berfungsi sebagai pakan ternak yang menopang rantai pangan.
Di titik inilah Hinca menekankan bahwa peran Polri tidak semata sebagai penegak hukum, tetapi juga penyangga tatanan sosial.
“Polisi bukan hanya represif. Ia preemtif dan preventif. Penjaga ritme sosial,” tegasnya.
Hinca kemudian mengaitkan analogi tersebut dengan berbagai peristiwa nasional, di mana Polri kerap menjadi garda terdepan dalam situasi krisis.
“Kalau distribusi pangan terganggu, polisi yang pasang badan. COVID datang, polisi pasang badan. Penyakit mulut dan kuku juga polisi yang pasang badan,” pungkasnya.
Pernyataan Hinca Panjaitan ini menegaskan pandangannya bahwa Polri merupakan institusi strategis dengan fungsi multidimensi, yang perannya melampaui penegakan hukum semata dan menyentuh langsung stabilitas sosial, keamanan, hingga ketahanan nasional.
(Redaksi/Hans)
