BLORA, Blok7.id – Program Gerakan Sedekah Subuh (GASTRA) yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten Blora bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) mendapat sambutan hangat, namun juga memicu keinginan besar dari masyarakat luas.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Gerakan ini mendorong setiap Aparatur Sipil Negara (ASN) muslim untuk secara sukarela menyisihkan uang tunai Rp2.000 setiap hari yang disalurkan melalui ‘umplung’ (kaleng sedekah) untuk mensejahterakan anak yatim piatu.
Sejak diluncurkan, GASTRA bertujuan menanamkan budaya berbagi di kalangan ASN. Dengan estimasi sekitar 11 ribu ASN, potensi dana yang terkumpul diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah per hari, yang mana 70% alokasinya difokuskan untuk santunan dan kesejahteraan anak yatim piatu.
Bupati Blora, Arief Rohman, menegaskan bahwa gerakan ini bersifat sukarela dan bukan pemotongan gaji wajib, melainkan ajakan untuk menumbuhkan empati.
“Ini adalah inovasi sosial. Jika setiap hari ada sedikit sedekah dari kita semua (ASN), manfaatnya bisa sangat besar untuk membantu saudara-saudara kita, terutama anak-anak yatim yang kita data,” jelasnya.
Menariknya, program yang awalnya dikhususkan untuk lingkungan ASN ini justru menyulut reaksi positif dari masyarakat umum di Blora.
Banyak warga, mulai dari pedagang, pelaku UMKM, Wartawan, LSM, Ormas, hingga ibu rumah tangga, menyatakan keinginan mereka untuk ikut berpartisipasi dalam gerakan sedekah subuh harian ini.
”Saya dengar ASN sedekah Rp2.000 tiap subuh buat anak yatim, saya juga mau. Kan kita juga kepingin dapat berkah subuh. Kenapa cuma ASN? Kami juga mau ikut ‘patungan’ biar sedekahnya makin besar dan anak-anak yatim bisa terbantu lebih banyak lagi,” ujar Markonah, seorang pedagang di Pasar Blora, Selasa dini hari (7/10/2025).
“Tapi saya berpesan, dana sedekah subuh ini akan menjadi baik, bila dikelola oleh pejabat yang jujur dan amanah. Bila tidak jujur, hancurlah dunia ini,” terangnya.
Keinginan masyarakat ini menjadi wacana baru yang didorong agar jangkauan GASTRA bisa diperluas.
Mereka berharap Baznas atau Pemkab dapat memfasilitasi penempatan ‘umplung’ sedekah di fasilitas umum, masjid, atau bahkan melalui kanal digital yang bisa diakses oleh seluruh warga. (Hans)
