Spread the love

BLORA, Blok7.id – Kisah hidup Irjen Pol Mardiyono, Kapolda Bengkulu, menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi tidak pernah dapat menghentikan seseorang untuk meraih kesuksesan tertinggi.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Kepulangannya ke kampung halaman di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, pada Sabtu (22/11/2025), menghadirkan cerita yang menyentuh hati dan menginspirasi banyak orang.

Lahir dari keluarga sangat sederhana, Irjen Pol Mardiyono tumbuh dalam kondisi serba terbatas. Namun, dedikasi, kegigihan, dan keteguhan hatinya mengantarkannya menjadi salah satu pimpinan kepolisian di Indonesia, sekaligus sosok yang dikenal berkomitmen kuat terhadap kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat.

Dari Jual Bubur hingga Ditolong Wali Kelas

Perjalanan hidupnya tidak pernah mudah. Pada usia empat tahun, ia kehilangan ibunda tercinta. Bersama empat adiknya, ia kemudian tinggal bersama sang nenek di rumah sempit berukuran 3×5 meter.

Neneknya bekerja sebagai tukang cuci dengan upah harian hanya Rp500.

“Dari uang itu, Rp150 untuk membeli deterjen, Rp150 untuk beras. Sisanya untuk kebutuhan harian. Kadang saat pulang sekolah tidak ada makanan, ya sekalian saja saya puasa Senin – Kamis,” kenangnya dengan haru.

Sejak usia tujuh tahun, beban hidup membentuk karakter tangguh dalam dirinya. Ia membantu perekonomian keluarga dengan menjajakan bubur buatan neneknya, membersihkan rumah tetangga, menjual air bersih, hingga bekerja sebagai petugas kebersihan pasar dengan upah Rp700 per bulan.

Walaupun hidup penuh keterbatasan, semangatnya dalam menempuh pendidikan tak pernah padam. Ia tidak pernah bolos ataupun tinggal kelas. Namun, masalah lain muncul, ia sering menunggak pembayaran biaya sekolah.

“Wali kelas saya, Bu Heni, bahkan pernah datang ke rumah dan membantu membayarkan biaya sekolah supaya saya bisa ikut ujian,” tuturnya haru, mengenang sosok guru yang sangat berjasa dalam hidupnya.

Tekad Kuat Masuk Polri Tanpa Biaya

Cita-citanya menjadi anggota Polri mulai tumbuh saat ia duduk di bangku SMA. Ia terinspirasi oleh seniornya, Agus Andrianto, yang kini menjadi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan.

“Saya benar-benar menyiapkan diri, dari kesehatan, akademik, hingga fisik. Semua dijalani dengan tekad,” ujarnya dalam Podcast Inspirasi pada Rabu (12/11/2025).

Ia menegaskan bahwa perjalanan kariernya adalah bukti nyata bahwa masuk Polri tidak memerlukan biaya apa pun. Hanya kerja keras, ketekunan, dan integritas yang menjadi kunci utama.

Kapolda Peduli: Dari SRIDURI hingga Sadesahe

Kini, ketika ia berada di posisi yang mampu membantu orang lain, Irjen Pol Mardiyono tidak melupakan masa lalunya. Ia mengubah pengalaman sulit menjadi energi untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat luas.

Program unggulannya, SRIDURI (Setiap Hari Dua Ribu), mengajak setiap anggota Polri menyisihkan Rp2.000 per hari. Dana ini digunakan untuk berbagai kegiatan sosial seperti bedah rumah, pelayanan kesehatan gratis, dan bantuan kemanusiaan lainnya.

Hingga kini, program SRIDURI telah membangun 63 rumah layak huni bagi masyarakat Bengkulu, masing-masing bernilai bantuan Rp50 juta lengkap dengan perabotan.

Selain itu, ia juga menggagas Program Sadesahe (Satu Desa Satu Hektare Jagung), yang mendukung ketahanan pangan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat, sejalan dengan program Kapolri.

Pesan Kehidupan yang Menginspirasi

Di akhir kisahnya, Irjen Pol Mardiyono menekankan pentingnya integritas bagi setiap anggota Polri dan bagi siapa pun yang sedang mengejar mimpi.

“Rawat tempat kamu bekerja, jaga nama baiknya. Mungkin itu tidak membuatmu kaya, tapi di situlah sumber kehidupanmu,” pungkasnya.

Kisah Irjen Pol Mardiyono bukan hanya cerita sukses, tetapi juga pengingat bahwa asal-usul tidak pernah menentukan masa depan. Dengan tekad, kerja keras, dan hati yang tulus, siapa pun dapat mencapai puncak mimpi. (Redaksi)

(Editor : Hans Gunawan)

error: Content is protected !!