BLORA. Blok7.id – Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Kunden, Kecamatan Blora, resmi mengelola unit usaha budidaya ikan lele sistem bioflok bantuan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Total ada 24 kolam bioflok yang siap dioperasikan, meski gedung koperasi masih dalam tahap pembangunan.
Peresmian dilakukan langsung oleh Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman di lokasi unit usaha yang berada di Jl. Agil Kusumadya Gang II, Kunden Karkaran, tak jauh dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kunden, Selasa (10/2/2026).
Peresmian ditandai dengan pelepasan benih ikan lele bersama perwakilan Dirjen Perikanan Budidaya KKP RI, unsur Forkopimda, dinas teknis, serta pengelola KKMP Kunden.
Ketua KKMP Kunden, Rohmah Yuli Fridayanti, menyebut unit usaha tersebut merupakan bantuan Program Budidaya Ikan Tematik KKP RI yang mulai dibangun sejak akhir 2025.
“Kami mengucapkan terimakasih kepada Pak Bupati, dan Pak Lurah Kunden yang telah membantu kami sehingga KKMP Kunden bisa menerima bantuan peternakan budidaya lele dengan sistem bioflok ini. Pembangunan dilaksanakan sejak akhir 2025 lalu. Semuanya dibiayai KKP, mulai dari pendirian dan pembuatan kolam, pelatihan SDM, hingga bibitnya. Sehingga siap dioperasikan hari ini. Mohon doanya semoga kami bisa menjalankan budidaya lele ini dengan baik, dan bermanfaat untuk mendukung ketahanan pangan di Kelurahan Kunden, serta memberdayakan ekonomi masyarakat sekitar,” ungka Rohmah.
Rohmah juga meminta dukungan Bupati Blora untuk mengawal proses perizinan pembangunan gedung KKMP Kunden ke Kementerian Pemuda dan Olahraga, karena lahan yang digunakan merupakan aset Kemenpora RI.
Perwakilan Dirjen Perikanan Budidaya KKP RI dari Balai Perikanan Jepara, Bayu Romadhona, mengatakan Blora menjadi daerah penerima bantuan bioflok terbanyak di wilayah eks Karesidenan Pati.
“Ada empat lokasi yang disetujui Pusat. Entah doa apa yang dipanjatkan Pak Bupati dan jajaran sehingga Blora disetujui di empat lokasi. Yang pertama di Kunden (Blora) ini, kemudian Kentong (Cepu), Kamolan (Blora), dan Sambongrejo (Sambong). Ternyata potensi di Kabupaten Blora ini luar biasa dan harus dikawal dengan baik,” ujarnya.
Bayu menegaskan kunci utama keberhasilan budidaya ikan adalah kualitas air.
“Ibarat jika pertanian kunci suksesnya kesuburan tanah, maka jika perikanan maka kuncinya adalah airnya yang menjadi media hidup ikan. Jika airnya sehat dan baik, maka ikan akan tumbuh dengan baik. Jika ikan tidak mau makan, jangan salahkan ikannya, harus dikoreksi kondisi airnya,” ucap Bayu Romadhona.
Ia menjelaskan karakteristik air di Blora memiliki TDS tinggi.
“Di Blora ini, lanjut Bayu Romadhona, kondisi TDS airnya tinggi. TDS adalah Total Dissolved Solids atau total padatan terlarut dalam air. Air Blora TDS nya sampai 900 ppm, sedangkan ikan akan tumbuh sehat di TDS kurang dari 300 ppm. Sehingga dalam menyiapkan kolam untuk budidaya ikan, air di Blora ini harus diendapkan dulu beberapa hari baru nanti dialirkan ke kolam ikan,” lanjutnya.
Bayu juga memaparkan paket bantuan KKP untuk satu lokasi terdiri dari 24 kolam bioflok diameter 4 meter lengkap dengan sarana pendukung.
“Termasuk benihnya sebanyak 60 ribu ekor juga ada dari KKP. Peralatan untuk perawatan kualitas airnya juga ada meskipun sederhana. Semuanya lengkap, dan tenaganya diikutkan bimtek di Banyuwangi. Sehingga diharapkan, budidaya ini tidak hanya membawa nama baik KKMP Kunden saja, namun juga membawa nama baik Blora. Program ini jangan sampai gagal agar Pak Bupati tidak malu saat ditanya KKP di Jakarta,” harapnya.
Ia menekankan pengelolaan budidaya harus berbasis prinsip 3M.
“Pengelola harus memegang teguh prinsip 3M, yakni Manajemen Air, Manajemen Pakan, dan Manajemen Sortir. Apalagi SDM nya sudah kami latih bersama di Banyuwangi. Kami berharap ini bisa menjadi contoh budidaya yang mandiri dan ramah lingkungan,” tambahnya.
Nilai bantuan budidaya ikan lele tersebut mencapai sekitar Rp 600 juta per lokasi, bersumber dari APBN 2025.Sementara itu, Bupati Blora Arief Rohman mengucapkan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto dan Menteri KKP RI atas program tersebut.
“Terimakasih kepada Pak Presiden dan Pak Menteri KKP yang telah memberikan empat lokasi budidaya lele sistem bioflok. Semoga nanti terus berkembang dan bisa dimanfaatkan hasilnya untuk mensupport pemenuhan kebutuhan MBG. Kita berharap tidak hanya 4 titik yang sudah ada, nanti coba akan kita ajukan untuk wilayah Kecamatan lain model usaha seperti ini. Kemarin saya sudah meresmian usaha ayam petelur di Banjarejo, ini giliran lele. Tentunya kalau cocok akan terus kita kembangkan ke desa-desa yang berpotensi budidaya lele,” ungkap Bupati.
Ia juga menyampaikan rencana penerbitan Peraturan Bupati terkait pemanfaatan potensi lokal untuk pemenuhan kebutuhan SPPG.
“Jadi nanti akan kita terbitkan Perbup tentang Pemenuhan Kebutuhan SPPG dari potensi lokal, agar hasil pertanian dan peternakan kitab isa terserap. Termasuk budidaya ikan lele ini,” tukasnya.
Terkait lahan KKMP Kunden, Bupati menyebut akan dilakukan koordinasi lintas instansi karena status aset berada di bawah kementerian.
“Khusus terkait lahan KKMP Kunden ini, nanti akan kita rapatkan kembali bersama dengan pihak pihak terkait. Memang di Blora ini ada beberapa KKMP dan KDMP yang lahannya belum clear. Ada yang memakai tanah dibawah kelola Kementerian maupun aset BUMN seperti Perhutani maupun Pertamina. Sehingga akan kita koordinasikan lebih lanjut agar bisa bersama-sama mendukung KKMP dan KDMP program Bapak Presiden,” tambahnya.
Di sisi teknis, tenaga budidaya KKMP Kunden, Aklis, menjelaskan proses operasional kolam bioflok.
“Satu kolam bioflok berdiameter 4 ini, harus diisi air yang sudah ditampung selama 7 hari. Agar TDS airnya pas untuk kolam lele. Satu kolam diisi 2.500 benih ikan lele berukuran 6-7 cm. Sehingga total dari 24 kolam diisi 60 ribu ekor. Untuk panen nanti menunggu perkembangan hingga usia tiga bulan kedepan. Selama 24 jam kolam diaerasi dengan gelembung udara menggunakan tenaga listrik,” terang Aklis.
