BLORA, Blok7.id – Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Ronggolawe (STTR) Cepu di Desa Sumber Pitu, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, waktunya terlalu singkat, yakni 30 Juni hingga 11 Juli 2025.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!
Hal tersebut dikeluhkan Lilis, Sekdes Sumber Pitu. Dia mengatakan waktu pelaksanaan KKN terlalu pendek, yang biasanya minimal 40 hari. Karena terlalu cepat, perkenalannya belum maksimal. Kemudian prokernya (program kerja) juga bagus.
“Cuma mungkin ini kurang cocok/match karena waktunya. Secara keseluruhan prokernya bagus. Jadi, mungkin kedepan disesuaikan dulu prokernya dengan waktu pengerjaannya,” ucapnya, Kamis (10/7/2027).
“Dengan KKN ini semoga kalian mendapat manfaat, bisa untuk meneruskan ke kehidupan. Memang KKN dengan pelajaran di kampus itu sangat beda. Jadi materi sama, tapi praktik itu sangat beda. Dengan praktik di sini bisa menyelaraskan dengan materi yang kalian dapat di kampus, sehingga berguna ke depannya. Jangan lupa ke sini lagi karena KKN-nya terlalu cepat,” ungkap Lilis.
Senada, Wahyudi masyarakat Desa Sumber Pitu, Dusun Sogo, RT 4, RW 2, mengatakan, Alhamdulillah dengan adanya Mahasiswa STTR Cepu KKN, ini sangat membantu desa.

“Sangat membantu desa kami, khususnya usaha mikro yang ada di Wahana Sumber Pitu,” katanya.
“Selain itu, kalian mahasiswa KKN membuat lorong-lorong seperti ini, sangat membantu warga, baik warga Desa Sumber Pitu maupun masyarakat desa lain, untuk mempermudah mencari alamat yang ada di wilayah desa kami. Terima kasih,” tandas Wahyudi.
Sementara itu, Ketua kelompok KKN, Catur Aji Pamungkas, menjelaskan bahwa program utama yang diusung oleh tim adalah revitalisasi sektor wisata desa.
“Fokus kami meninjau dan membantu pengembangan wisata desa agar bisa lebih menarik dan berkelanjutan,” ujar Catur.
Menurut Catur, masyarakat sekitar sangat ramah dan antusias, bahkan turut membantu berbagai kebutuhan logistik, seperti makanan dan peralatan.
“Alhamdulillah warga sangat ramah. Kami dibantu mulai dari tempat tinggal, konsumsi, hingga alat-alat yang diperlukan,” katanya.
Meski begitu, Catur mengakui masih ada beberapa kendala teknis, terutama terkait ketersediaan alat bantu untuk pembangunan sarana wisata.
Namun, hal tersebut bisa diatasi berkat dukungan warga dan keluarga setempat yang bersedia meminjamkan perlengkapan yang dibutuhkan.
“Memang kendala utama kami ada di alat bantu pembangunan, tapi terima kasih warga sangat terbuka dan banyak yang meminjamkan alat,” ungkapnya.
Catur berharap hasil dari program KKN ini bisa membawa manfaat jangka panjang bagi Desa Sumber Pitu.
“Setelah kami kembali dari sini, tempat wisata bisa terus dikembangkan dan dijaga oleh warga desa. Semoga bisa memberi manfaat jangka panjang,” ujarnya.
Sebagai pesan kepada rekan-rekan mahasiswa, Catur menekankan pentingnya pengabdian dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“Mahasiswa harus lebih royal dalam menerapkan Tri Dharma, khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat. Ini adalah tanggung jawab kita sebagai bagian dari sejarawan,” pungkasnya.
Untuk diketahui, Sekolah Tinggi Teknologi Ronggolawe (STTR) Cepu adalah salah satu perguruan tinggi di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. (Rendra)
