BLORA, Blok7.id – Seorang warga Blora melaporkan pria berinisial LNG atas dugaan penipuan berkedok proyek pengadaan di Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Laporan ini dibuat setelah korban dan rekan-rekannya mengaku mengalami kerugian total sekitar Rp600 juta sejak Agustus hingga Oktober 2024.
Menurut keterangan sumber yang terlibat langsung dalam kasus ini, “Hubungan antara dirinya dan LNG sebenarnya telah terjalin sejak lima tahun lalu,” ujar pelapor.
Komunikasi keduanya disebut berjalan baik hingga akhirnya pada 2024 mereka kembali bertemu di Yogyakarta saat menghadiri sebuah acara.
“Pertemuan itu dilaksanakan di Restoran Sasanti, dimana pelapor juga memperkenalkan rekannya, DD kepada LNG,” ungkap pelapor.
Dalam pertemuan tersebut, LNG disebut bercerita bahwa ia sedang menangani proyek di lingkungan Kemenkumham dan mengaku mengenal sejumlah pejabat di Kemenkumham.
Mendengar hal itu, rekan pelapor, DD, menanyakan apakah terdapat peluang proyek yang dapat mereka kerjakan. Pelapor kemudian mempersilakan pertukaran nomor telepon antara DD dan LNG untuk komunikasi lanjutan.
“Sekitar dua minggu setelahnya, pada September 2024, LNG mengajak bertemu di kantor Kemenkumham. Saya bersama DD dan seorang rekan lain, BS, mendatangi kantor tersebut,” ungkap pelapor.
Hanya DD dan LNG yang naik ke ruang seorang pejabat berinisial E, sementara pelapor menunggu di bawah.
Usai pertemuan itu, menurut pelapor, LNG menyampaikan bahwa pejabat tersebut meminta dana “entertain” sebesar Rp50 juta. Setelah berdiskusi internal, pihak pelapor mengirimkan dana tersebut. Permintaan serupa disebut terus berlanjut hingga total dana yang dikirim mencapai sekitar Rp600 juta.
Pada awal 2025, komunikasi antara DD dan LNG memburuk. DD melapor kepada pelapor dan rekan-rekan lainnya mengenai kejanggalan yang ia rasakan.
Pelapor kemudian mulai mencari informasi dari berbagai pihak, termasuk seorang tokoh Blora bernama N yang disebut-sebut dalam percakapan sebelumnya.
Dalam pertemuan di Restoran Olive, N mengungkapkan bahwa sudah banyak pihak menjadi korban LNG dan bahwa tercatat sekitar 25 laporan telah masuk terkait dugaan modus serupa.
Pelapor kemudian berusaha mengonfirmasi informasi mengenai keterlibatan pejabat E. Dari komunikasi langsung dengan pejabat tersebut, pelapor mendapati bahwa foto LNG bersama sang pejabat ternyata hanya saat kunjungan silaturahmi, dan tidak membahas proyek apa pun.
Pejabat itu juga mengaku telah menerima laporan dari pihak lain yang merasa dirugikan oleh LNG.
Setelah semakin banyak bukti dan keterangan, pelapor menagih pengembalian dana kepada LNG.
“Dalam responsnya, LNG sempat berjanji mengembalikan dana setelah pekerjaannya di Imigrasi Pati selesai pada September 2024, bahkan menawarkan cek,” kata pelapor.
Namun pelapor menyebut LNG terus menghindar dan tidak dapat dihubungi hingga saat ini.
“Chat dan telepon tidak dibalas. Karena sudah tidak ada itikad baik, saya memutuskan untuk melaporkannya,” ujar pelapor.
Pelapor menegaskan bahwa isu yang menyebutkan adanya persoalan terkait mobil tidak benar dan tidak terkait dengan laporan ini.
Hingga berita ini diturunkan, pihak LNG belum dapat dimintai klarifikasi. (Hans)
