OPINI, Blok7.id – Momentum 17 Agustus di Indonesia diperingati dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI). Pada tahun ini (2025), kita sudah merayakannya yang ke – 80 Tahun. Angka 8 merupakan angka yang cukup spesial dikarenakan memiliki arti membawa keberuntungan yang tidak terbatas (infinity) dikarenakan angkanya yang terus terhubung tanpa putus.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Perayaan yang diperingati setahun sekali ini biasanya diramaikan dengan aneka lomba seperti lomba makan kerupuk, memasukaan pensil ke botol, panjat pinang, balap karung, tarik tambang sampai jalan sehat.
Banyak bentuk perayaan serupa baik formal seperti upacara sampai non formal berupa pawai dan karnaval.Perayaanpun tak jarang dikemas secara haru dengan cara menerungi pengorbanan para pahlawan mulai dari santunan kepada veteran, renungan malam di makam pahlawan, dan lain sebagainya.
Kemerdekaan tidak harus dirayakan dengan bersenang – senang semata. Bagaimana pahlawan dapat mempertaruhkan nyawanya, antara hidup dan mati. Berjuang sampai akhir meskipun hanya menggunakan bambu dan belati. Melawan para penjajah yang tak punya hati.
Kini, kita sudah merdeka dari jeratan penjajah. Namun, tantangan terus datang dengan bentuk yang berbeda. “Di mana bumi dipajak, di situ anda kena pajak” pada zaman dahulu ditodong dengan senjata sekarang ditodong dengan pajak dan banyak variannya. Mulai dari Pajak Penghasilan, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Royalti Caffe, Pajak Sosmed, Pajak Nafas saja ini yang belum.
Tak berhenti sampai di situ, sepertinya para WNI (Warga Negara Indonesia) yang terkenal dengan Netizen teramah di dunia juga dipermainkan dengan kesenangan yang semu, Jika Hindia (Baskara) punya lagu ‘Dari Rumah ke Rumah’ maka WNI bisa punya playlist ‘Dari Rezim ke Rezim’. Setiap kali issue muncul diiringi dengan kasus Seleb dengan masalah perselakangannya.
Issue – issue yang muncul dapat berupa munculnya RUU yang kocag gaming, seperti Rumah warisan yang tidak digunakan dapat diambil negara yang memicu munculnya Konflik Agraria. Kartu ATM yang tidak digunakan selama jangka waktu tertentu dapat diblokir. Tak lupa, beberapa waktu yang lalu muncul berita Pemerintah berhak menyadap akun warganya.
Jual – beli data masyarakat kepada Amerika Serikat, Penghapusan Sejarah, Statemen Mentri dan Pejabat yang asbun (asal bunyi). Ini dosa pemerintah kalau dibuat lagu mungkin sudah bisa jadi beberapa Album. Dengan judul Albumnya ‘Indonesia Gelap’.
Semuanya dipaksa merayakan kemerdekaan yang palsu, sebatas seremoni tanpa ada esensi yang pasti. Pejabat yang nir-empati, menjadi WNI memang sebuah tantangan tersendiri. Di tengah pembumkaman (Sukatani), dan maraknya PHK sana sini. Gimanapun keadaanya semoga ada perbaikan untuk Negeri ini. Sekali lagi, selamat merayakan kemerdekaan yang fana ini. (L</>)
