BLORA, Blok7.id – Puluhan pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora mendatangi DPRD Blora, untuk mengadukan nasib anggotanya yang terancam rugi besar setelah Pabrik Gula (PG) Gendhis Multi Manis (GMM) – Bulog menghentikan masa giling tebu lebih awal dari jadwal.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Penghentian mendadak ini dipicu oleh kerusakan parah pada mesin boiler pabrik. Ketua DPC APTRI Blora, Sunoto, menyayangkan keputusan direksi yang langsung menutup giling, padahal banyak petani sudah siap panen.
“Setiap tahun selalu ada masalah dengan PG GMM Bulog,” ujar Sunoto dengan nada tinggi, Rabu (1/10/2025).
“Tahun lalu soal harga rendah, sekarang soal penutupan masa giling. Kami menuntut pertanggungjawaban Direksi karena nasib petani jadi taruhan dan akan rugi besar,” tegasnya.
Petani bahkan, kata Sunoto, menuntut agar Direksi PG GMM Bulog mundur.
“Kalau nggak bisa kerja, mundur saja,” tegasnya.
Sementara itu, menanggapi tekanan ini, Direktur Utama PG GMM Bulog, Sri Amelia menjelaskan, penghentian terpaksa dilakukan karena kerusakan boiler yang butuh perbaikan lama. Pabrik menghentikan giling di hari ke-110 dari rencana 150 hari.
PG GMM Bulog mengaku sudah menggiling 219.000 ton tebu, atau sekitar 50% dari target.
Dia mengakui, petani merugi jika harus mengalihkan tebu ke pabrik lain karena akan menambah waktu antrian giling.
Ironisnya, kata dia, tahun ini PG GMM Bulog sendiri menanggung kerugian besar mencapai Rp92 Miliar.
“Total kerugian pabrik dalam dua tahun terakhir akibat kerusakan peralatan sudah mencapai Rp134 Miliar,” kata Sri Amelia.
Maka dari itu, Ketua DPRD Blora, Mustopa menyatakan, kesiapan DPRD untuk mendampingi petani dan direksi ke Jakarta.
“Kami siap mendampingi ke Kementerian BUMN dan Kementerian Pertanian demi perbaikan pabrik gula ini,” kata Mustopa, yang berjanji akan segera membuat surat dan berangkat ke Jakarta, Senin besok.
Dukungan juga datang dari Wakil Ketua DPRD Blora, Lanova Chandra Tirtaka, yang siap membantu koordinasi dengan pihak-pihak di pusat, termasuk Wakil Menteri Pertanian dan Mensesneg.
“Ini untuk mendorong perbaikan kondisi PG GMM Bulog yang terus-menerus merugi akibat masalah mesin,” tandas Lanova. (Hans)
