BLORA, Blok7.id – Memasuki masa tanam, para petani di Desa Gedongsari, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah kembali dibuat resah oleh kelangkaan pupuk subsidi.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Dua jenis pupuk kimia yang paling dibutuhkan, Phonska dan Urea, sulit ditemui di tingkat pengecer, membuat petani terancam gagal melakukan pemupukan awal.
MS, salah satu petani setempat, mengungkapkan keresahannya. Ia menduga ada pihak-pihak yang memainkan harga pupuk jauh di atas ketentuan.
“Saya ditawari Rp250.000 untuk satu paket pupuk. Di televisi katanya pupuk mudah, tapi kenyataannya di lapangan kok sulit. Ini keberadaan pupuknya di mana?” ujarnya, Kamis (27/11/2025).
Menurut MS, ia bahkan sudah mengingatkan pihak distributor agar tidak bermain-main dalam penyaluran pupuk.
“Kalau SIUP diminta orang lho, ini bahaya. Nanti kalau saya jengkel, saya bilang ke Pak Presiden Prabowo lho. Saya sungguh-sungguh ini,” tegasnya.
Para petani berharap pemerintah segera turun tangan untuk memastikan alur distribusi kembali normal, sekaligus menekan harga agar sesuai harga eceran tertinggi (HET).
Tanpa pupuk, mereka khawatir hasil tanam musim ini akan turun drastis.
Keluhan senada disampaikan SN, petani lain di Gedongsari. Ia menuturkan bahwa kelangkaan pupuk telah berlangsung hampir satu bulan.
Ia mendapat informasi bahwa ketiadaan pupuk disebabkan tidak adanya pengiriman dari pusat.
“Kalau pupuk di desa sini itu sudah satu bulan sulit mendapatkan. Infonya tidak ada kiriman dari pusat, entah dikirim ke mana pupuk itu,” ujarnya.
SN menyebut distribusi baru mulai bergerak dalam dua hari terakhir, itupun terbatas.
“Baru kemarin dikirim pupuk organik, dan hari berikutnya baru Phonska. Pupuk Urea sampai hari ini belum ada,” ungkapnya.
Harga pupuk yang tersedia juga melonjak tajam. Paket pupuk organik dan Phonska yang dibeli SN mencapai Rp140.000, terdiri dari Rp110.000 untuk Phonska dan Rp30.000 untuk pupuk organik.
“Phonska baru dikirim hari ini di UD SHB di Desa Gedongsari,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa petani kecil sangat membutuhkan pupuk kimia saat masa tanam, sementara pupuk organik hanya sebagai pelengkap.
SN juga menyinggung pernyataan Menteri Pertanian yang sebelumnya mengingatkan bahwa pengecer yang menjual pupuk di atas HET, yakni Rp90.000 bisa dicabut izinnya.
“Tapi kenyataannya sampai bawah kok begini, pupuk mahal di atas HET,” keluhnya.
Karena keterbatasan stok lokal, SN bahkan terpaksa membeli pupuk dari luar wilayah Banjarejo dengan harga lebih tinggi.
“Saya membeli dari wilayah lain, Phonska satu sak Rp125.000. Kalau satu paket Phonska dan Urea harganya Rp250.000,” jelasnya.
Para petani kini menunggu tindakan tegas pemerintah untuk mengatasi kelangkaan dan memastikan pasokan pupuk subsidi kembali lancar. Tanpa itu, musim tanam tahun ini terancam terganggu, dan kesejahteraan petani semakin terimpit. (Hans)
