BLORA, Blok7.id – Ramainya pemberitaan dan keluhan masyarakat terkait kualitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Blora terus memicu berbagai tanggapan dari sejumlah pihak. Salah satunya datang dari pengurus PKC PMII Jawa Tengah sekaligus jurnalis asal Blora, Teguh Arianto.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Teguh menyoroti kinerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Blora yang dinilai harus segera melakukan pembenahan, terutama bagi SPPG yang sempat tersandung persoalan di lapangan, termasuk yang ramai diperbincangkan seperti SPPG Jepon Seso 1.
“Tolonglah, SPPG yang nakal segera berbenah. Yang merasa sempat tersandung masalah jangan anti kritik dan jangan menuduh ‘pesanan’,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).
Ia menegaskan bahwa kritik yang muncul di masyarakat seharusnya menjadi bahan evaluasi agar pelaksanaan program MBG bisa berjalan lebih baik.

“Kalau tidak bisa dikritik dan tidak bisa diberi masukan, lebih baik uangnya diberikan ke orang tua. Saya yakin orang tua tidak akan memberikan makanan yang tidak bergizi,” tegasnya.
Menurut Teguh, skema penyaluran dana MBG juga bisa dipertimbangkan untuk disalurkan langsung kepada orang tua dengan tetap berada dalam pengawasan ahli gizi.
Ia mencontohkan jika dana sebesar Rp15 ribu diberikan kepada orang tua, kemungkinan orang tua justru akan menambah biaya tersebut agar makanan yang diberikan kepada anak lebih layak.
“Misalkan dana Rp15 ribu itu diberikan ke orang tua, kemungkinan besar nanti ketika ada kontrol dari pihak terkait yang menentukan menu, yang seharusnya Rp15 ribu bisa jadi ditambahi orang tua jadi Rp20 ribu,” jelasnya.
Ia menilai peran ahli gizi tetap penting untuk memastikan menu yang dibawa anak ke sekolah tetap memenuhi standar gizi yang telah ditentukan.
“Ahli gizi tinggal mengatur menu yang harus dibawa anak ke sekolah,” tambahnya.
Tidak di situ saja, kali ini terjadi lagi, polemik MBG di Blora mencuat setelah beredarnya video viral yang memperlihatkan makanan diduga tidak layak konsumsi di wilayah Kecamatan Randublatung.
Video tersebut memperlihatkan singkong yang diduga dalam kondisi busuk serta kerupuk yang terlihat melempem. Peristiwa itu disebut terjadi di Desa Kutukan dan memicu berbagai komentar dari masyarakat.
Salah satu penerima manfaat bahkan menyebut kejadian tersebut merupakan kali kedua terjadi di desa tersebut. Sebelumnya warga sempat menerima roti dalam kondisi berjamur, namun saat itu warga memilih tidak mempermasalahkan.
Video tersebut juga memicu berbagai komentar dari aktivis dan masyarakat Blora yang mempertanyakan kualitas menu serta mekanisme pelaksanaan program MBG di lapangan.
(Redaksi/Hans)
