Spread the love

Blora. Blok7.id – Pemerintah Kabupaten Blora bersama DPRD dan perwakilan petani tebu mengawal ketat keberlangsungan operasional Pabrik Gula PT GMM Bulog pada masa giling 2026.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Upaya itu dilakukan melalui rapat khusus dengan jajaran Perum Bulog di Kantor Bulog, Jakarta, Rabu (21/1/2026).

Rapat tersebut dihadiri Bupati Blora Arief Rohman, Wakil Bupati Sri Setyorini, Ketua DPRD Blora Mustopa, serta pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTRI) Kabupaten Blora, yakni Ketua APTRI Sunoto dan Sekretaris APTRI Anton Sudibdyo.

Dalam pertemuan itu, rombongan dari Blora meminta Direktur Utama Perum Bulog agar Pabrik Gula PT GMM Bulog tetap melaksanakan giling secara profesional pada 2026. Keberlangsungan pabrik dinilai krusial bagi ribuan petani tebu di Blora.

Langkah tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Blora, HM Kusnanto.

Menurutnya, PT GMM Bulog menjadi satu-satunya harapan petani tebu untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan.

Ia menilai keberadaan pabrik gula juga memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat sekitar.

“Bahkan konsep dulu ketika Pabrik Gula GMM dibangun juga direncanakan akan dijadikan objek wisata industri yang ramah lingkungan. Dan saat ini bisa berbaur dengan objek wisata alam Gua Terawang di Todanan,” terang Kusnanto, Sabtu (24/1/2025).

Dari hasil rapat tersebut, muncul kabar positif terkait perbaikan pabrik. Direktur Keuangan Bulog Hendra Susanto menyampaikan bahwa pengajuan margin fee Bulog ke Setneg sebesar 7 persen telah disetujui.

Persetujuan itu diberikan oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pada Jumat (23/1/2026).

Dengan persetujuan tersebut, rencana perbaikan besar di Pabrik Gula PT GMM Bulog disebut akan segera berjalan.

Janji Direktur Utama Perum Bulog Mayjen Ahmad Rizal Ramdani dalam rapat khusus pada 21 Januari 2026 pun disebut segera direalisasikan. Perbaikan itu meliputi penggantian dua unit boiler yang mengalami kerusakan berat dengan boiler baru, serta pembenahan personel internal dan manajemen pengelolaan pabrik.

Meski demikian, Kusnanto meminta agar pengurus APTRI tidak lengah dan tetap mengawal komitmen tersebut.

“Jangan sampai seperti lagunya Bob Tutupoly, Tinggi Gunung seribu janji.Lain dibibir lain di hati,” tandasnya.

Senada, pengurus APTRI Kabupaten Blora Agus Joko Susilo menilai masukan dari HKTI penting agar komunikasi dengan manajemen PT GMM Bulog terus terjaga. Ia menekankan perlunya percepatan rekonstruksi pabrik gula.

Menurutnya, perbaikan boiler membutuhkan waktu yang tidak singkat dan harus disesuaikan dengan jadwal masa giling.

“Mestinya harus diperhitungkan dengan waktu masa giling 2026,” ucapnya.

Agus optimistis jika perbaikan boiler dapat diselesaikan tepat waktu dan pabrik dikelola secara profesional, berdedikasi, dan jujur, maka masa giling 2026 akan membawa harapan baru bagi petani tebu Blora, sekaligus meningkatkan pendapatan mereka.

error: Content is protected !!