Blok7.id – Pemerintah menuntaskan satu lagi tonggak penting dalam program hilirisasi minyak dan gas bumi (migas). Sebuah pabrik petrokimia terintegrasi berskala besar kini resmi berdiri di Cilegon, Banten, menandai langkah maju Indonesia dalam mengolah sumber daya alamnya sendiri.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Presiden Prabowo Subianto meresmikan Pabrik New Ethylene Project milik PT Lotte Chemical Indonesia (LCI), Kamis (6/11), didampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
Proyek ini menjadi simbol nyata arah kebijakan pemerintah yang menjadikan hilirisasi sebagai prioritas utama dalam program Asta Cita.
Presiden Prabowo menegaskan, kehadiran investasi besar dan program hilirisasi migas menjadi kunci dalam mendorong pembangunan nasional serta peningkatan kesejahteraan rakyat.
“Hari ini, Lotte, perusahaan salah satu terbesar di dunia, mungkin asetnya USD100 miliar dan mereka investasi di kita sebesar Rp65 triliun. Terima kasih, saya bangga. Mudah-mudahan Saudara di sini berhasil. Kita wajib mengamankan, menjaga semuanya karena ini membawa manfaat sangat besar bagi kepentingan seluruh rakyat Indonesia,” ujar Prabowo.
Proyek senilai USD3,9 miliar atau sekitar Rp62,4 triliun ini menandai kembalinya pembangunan kompleks Naphtha Cracker di Indonesia setelah vakum hampir 30 tahun.
Pembangunan pabrik sempat terhenti selama lima tahun, hingga akhirnya kembali berjalan berkat terobosan dari Menteri Bahlil saat menjabat sebagai Menteri Investasi/Kepala BKPM.Melalui penyelesaian masalah lahan, penyederhanaan perizinan, dan pemberian insentif kompetitif, proyek ini kembali bergerak. Pembangunan dimulai pada April 2022 dan resmi beroperasi sejak Oktober 2025.
Saat beroperasi penuh, fasilitas ini diperkirakan menghasilkan 15 produk petrokimia hilir senilai sekitar USD2 miliar per tahun, terdiri dari USD1,4 miliar substitusi impor dan USD600 juta nilai ekspor.
Capaian tersebut diharapkan memperkuat neraca perdagangan sektor industri kimia nasional.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut fasilitas ini sebagai yang terbesar di Asia Tenggara. Pabrik tersebut akan memproduksi etilena, propilena, dan berbagai produk turunannya yang menjadi bahan baku penting bagi industri domestik.
“Kalau dalam kurs sekarang sudah mencapai sekitar Rp63-64 triliun, dan menjadikannya salah satu investasi petroleum terbesar di Asia Tenggara. Jadi proyek ini terbesar di Asia Tenggara, mereka punya juga ada Lotte di Malaysia, tapi di sini yang paling besar,” ujar Bahlil.
Selain memperkuat industri kimia nasional, proyek ini juga berdampak besar pada penciptaan lapangan kerja. Selama masa konstruksi dan operasional, sekitar 40 ribu tenaga kerja terserap, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pabrik ini diharapkan mampu menekan ketergantungan impor produk petrokimia yang selama ini mencapai sekitar 50 persen. Dengan begitu, kebutuhan bahan baku industri hilir di dalam negeri bisa lebih terjamin.
Chairman LOTTE Group, Shin Dong-bin, menilai proyek ini sebagai simbol kemitraan strategis antara Indonesia dan Korea Selatan sekaligus fondasi baru bagi penguatan industri nasional.
“Proyek ini merupakan salah satu investasi terbesar perusahaan Korea di Indonesia, melambangkan kemitraan yang kuat antara kedua negara, serta akan menjadi fondasi penting untuk memperkuat industri petrokimia Indonesia dan daya saing nasionalnya,” ungkapnya.
