BLORA, Blok7.id – Kisruh industri pergulaan di Blora mencapai titik didih. Keputusan sepihak manajemen PT GMM Bulog (Pabrik Gula Gendhis Multi Manis) yang tiba-tiba menghentikan proses giling tebu musim 2025 telah menuai kemarahan dan penderitaan mendalam bagi ribuan petani.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Diperkirakan lebih dari 1.500 hektare tebu petani terancam tidak tertebang, menimbulkan kerugian besar dan memicu protes keras.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Blora, yang dipimpin Siswanto, merespons cepat dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD), Kamis (16/10/2025) untuk mencari solusi hilirisasi pertanian.
Siswanto, yang juga Wakil Ketua DPRD Blora, menyatakan keprihatinannya dan menegaskan bahwa nasib petani tebu harus diperjuangkan demi mendukung program ketahanan pangan nasional.
”Kami sangat terketuk hatinya. Petani tebu di Blora mengalami penderitaan saat sedang panen tebu karena ditutupnya giling 2025 secara sepihak oleh pihak managemen PT GMM Bulog,” ujar Siswanto, sambil menambahkan bahwa jika manajemen PT GMM Bulog tidak profesional, harus direformasi.
Ia bahkan menghadirkan pengusaha agribisnis gula kondang, Pahlevi Pangerang, yang disebut siap mengelola pabrik gula secara profesional.
Puncak kekecewaan diungkapkan oleh perwakilan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Blora.
Sekretaris APTRI, Anton Sudibdyo, dengan lantang menyebut, “Pengelolaan di bawah PT GMM Bulog bagai dijajah oleh para kolonial Belanda, yang membuat nasib petani semakin melarat,” ungkapnya.
Petani berharap, kata Anton, kehadiran Pahlevi Pangerang dapat menjadi juru selamat yang menawarkan solusi permodalan dan jaminan harga jual tebu yang menguntungkan.
“Jika tidak, saya memperingatkan, pabrik gula kelak akan mangkrak dan menjadi besi tua serta petani makin menderita,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua APTRI, Sunoto, memaparkan fakta tragis, antara lain pabrik Gula GMM yang seharusnya modern justru sering rusak mesinnya, dan akhirnya menghentikan giling secara tiba-tiba.
Lanjut dia, sebelum giling berhenti, harga tebu dibeli Rp78/kg. Setelah dihentikan, tebu petani hanya dibeli oleh sesama petani penyangga (yang ditunjuk PT GMM) dengan harga terus turun dari Rp71/kg hingga kini hanya Rp65/kg.
“Perbedaan harga ini menimbulkan kerugian Rp13/kg, memunculkan istilah baru ‘Petani Predator’ di tengah carut marut penanganan tebu,” ucapnya.
Sebagai bentuk protes, lanjut Sunoto, APTRI mengumumkan rencana aksi besar, sekitar 500 petani tebu akan geruduk Kantor DPRD Blora minggu depan dengan membawa tronton bermuatan tebu untuk menuntut keadilan. (Hans)
