Jakarta, Blok7.id – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sedang mengalami tekanan hebat di awal tahun 2026. Mata uang Garuda sempat menyentuh level Rp 16.860 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (13/1).
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Bank Indonesia (BI) pun buka suara mengenai penyebab utama jebloknya nilai tukar Rupiah. Meski mengalami pelemahan, BI memastikan tetap siaga di pasar untuk menjaga stabilitas.
Ini Penyebab Rupiah Melemah
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, menjelaskan bahwa tekanan pada Rupiah bukan tanpa alasan. Setidaknya ada tiga faktor global yang menjadi “biang kerok” utama:
- Eskalasi Geopolitik: Ketegangan situasi politik dunia yang meningkat memicu kekhawatiran investor global.
- Independensi Bank Sentral: Munculnya keraguan pasar terhadap independensi bank sentral di beberapa negara maju.
- Ketidakpastian The Fed: Arah kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed) yang masih abu-abu, ditambah tingginya kebutuhan valuta asing di dalam negeri pada awal tahun.
“Kondisi ini mendorong Rupiah melemah sebesar 1,04% secara year-to-date,” ujar Erwin dalam keterangannya, Rabu (14/1/2026)
BI Lakukan Intervensi Berlapis
Menghadapi badai global ini, BI tidak tinggal diam. Erwin menegaskan pihaknya terus melakukan intervensi agar Rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamentalnya dan tidak liar di pasar.
Beberapa langkah “pro-market” yang dilakukan BI antara lain:
- Intervensi di pasar spot.
- Transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
- Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
- Intervensi di pasar off-shore (luar negeri) lintas kawasan mulai dari Asia, Eropa, hingga Amerika.
Cadangan Devisa Masih Aman
Meski dihantam tekanan, masyarakat diminta tidak panik. BI mencatat ketahanan ekonomi Indonesia masih cukup tangguh. Hal ini dibuktikan dengan posisi cadangan devisa Indonesia yang mencapai US$ 156,5 miliar pada akhir Desember 2025.
Jumlah tersebut setara dengan 6,4 bulan impor, yang dinilai sangat memadai sebagai bantalan (buffer) untuk meredam gejolak pasar keuangan global.
Selain itu, minat investor asing ke pasar domestik tetap positif. Tercatat ada aliran modal masuk mencapai Rp 11,11 triliun per Januari 2026, khususnya pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham.
