JAKARTA, Blok7.id – Mantan Kabareskrim Polri Komisaris Jenderal Polisi (Purn.) Susno Duadji melontarkan kritik blak-blakan mengenai posisi dan peran polisi di tengah masyarakat.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Dalam sebuah percakapan video yang beredar, Susno menegaskan bahwa polisi sejatinya adalah milik masyarakat dan sepenuhnya dibiayai oleh rakyat.
“Polisi itu milik masyarakat. Masyarakat yang gaji, yang belikan baju, senjata, BBM, segala macam. Ya terserah yang punya,” ujar Susno lugas, Jumat (30/1/2026).
Ia menekankan bahwa pengakuan sebagai pelayan masyarakat tidak boleh berhenti pada slogan.
Menurutnya, banyak aparat yang mengklaim sebagai pelayan, tetapi masih menempatkan diri di atas rakyat.
“Jangan sampai ngaku pelayan tapi tempatnya mau di atas. Kebalik. Pelayan masyarakat itu harus betul-betul pelayan, bukan semboyan,” katanya.
Susno bahkan mengibaratkan posisi polisi sejajar, bahkan tidak lebih tinggi, dari perangkat lingkungan seperti ketua RT.
“Pelayan itu artinya mengabdi, pembantu. Sama saja dengan Pak RT. Bahkan masih lebih hebat Pak RT daripada polisi,” ucapnya.
Dalam pernyataan yang sarat sindiran, Susno menegaskan bahwa konsekuensi menjadi polisi adalah siap melayani tanpa batas waktu dan tanpa keluhan.
“Kalau polisi tidak boleh tidur. Pembantu rumah tangga bisa tidur malam. Jadi kalau enggak mau disuruh-suruh sama rakyat, jangan jadi polisi,” tegasnya.
Evaluasi Kritis atas Slogan Presisi
Susno juga menyinggung slogan Presisi yang selama ini menjadi konsep utama Polri.
Ia mengakui secara konsep Presisi terdengar ideal dan menjanjikan pelayanan tanpa kekerasan serta pendekatan humanis kepada masyarakat.
“Presisi itu bagus sekali. Kalau dibaca bukunya tebal. Melayani masyarakat bagus, menyidik perkara bagus, serba bagus,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan Presisi tidak diukur dari dokumen atau jargon, melainkan dari persepsi dan pengalaman langsung masyarakat.
“Sekarang tolak ukurnya itu. Sudah begitu apa belum? Jangan-jangan masyarakatnya masih mengeluh,” kata Susno.
Sebagai mantan perwira tinggi Polri, Susno mengaku dirinya bisa saja memberi penilaian positif. Namun ia menegaskan bahwa objektivitas harus tetap dijaga karena sumber gaji aparat berasal dari rakyat.
“Kalau saya menilai, pasti saya bilang baik-baik. Orang saya polisi kok. Saya digaji oleh rakyat, sekarang sudah pensiun pun masih digaji,” pungkasnya.
Pernyataan Susno Duadji tersebut menjadi refleksi keras tentang makna pelayanan publik, sekaligus pengingat bahwa legitimasi Polri sepenuhnya bertumpu pada kepercayaan dan kepuasan masyarakat.
(Redaksi/Hans)
