Spread the love

BLORA, Blok7.id – Wakil Bupati Blora, Sri Setyorini, turun langsung meninjau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gedang Becici di Desa Kutukan, Kecamatan Randublatung, setelah beredarnya video viral yang memperlihatkan makanan diduga tidak layak konsumsi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Kunjungan tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut atas laporan masyarakat terkait kualitas makanan yang dibagikan kepada penerima manfaat program.

“Jadi siang hari ini kami menindaklanjuti laporan masyarakat adanya SPPG di wilayah Gedang Becici, Desa Kutukan, Kecamatan Randublatung. Jadi aduan masyarakat telah kami tindaklanjuti lokasinya dan kami menyarankan kepada pemilik SPPG agar supaya membenahi, memperbaiki untuk sajian yang akan diberikan,” ujar Sri Setyorini saat berada di lokasi, Rabu (11/3/2026).

Ia menegaskan, pemerintah daerah akan terus memantau pelaksanaan program tersebut agar kualitas makanan yang diberikan kepada masyarakat benar-benar layak.

“Ke depan langsung kita pantau terus untuk SPPG, bagaimana ke depannya ada perubahan atau tidak. Kalau tidak, ya terpaksa kita lapor BGN. Begitu mas, sesuai arahan BGN,” tegasnya.

Selain itu, ia juga mendorong agar bahan pangan yang digunakan dalam program tersebut berasal dari wilayah Kabupaten Blora sehingga dapat memberdayakan pelaku usaha lokal.

“Harapan kami, semua bahan pokok diambil dari wilayah Blora. Optimalisasi UMKM se-wilayah SPPG ini, baik makanannya maupun UMKM,” tambahnya.

Sebelumnya diberitakan media Blok7.id, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan kepada balita, ibu hamil, dan ibu menyusui di wilayah Kecamatan Randublatung menuai keluhan setelah sebuah video yang memperlihatkan makanan diduga tidak layak konsumsi beredar luas di media sosial.

Video tersebut memperlihatkan ubi yang diduga dalam kondisi busuk serta kerupuk yang terlihat melempem atau loyo. Peristiwa itu disebut terjadi di Desa Kutukan, Kecamatan Randublatung.

Dalam video tersebut, seorang penerima manfaat mengungkapkan kekecewaannya terhadap kualitas makanan yang diterima.

“Astagfirullahaladzim.. kalau seperti ini entah apa modelnya? Ya Allah.. kok tidak bersyukur kalau begini ini ubi busuk lho, ini diberikan ke orang! Ini juga dana negara, dana pendidikan. Kok dicarikan yang bentukannya seperti ini, lihat ubinya,” ucapnya dalam video yang viral.

Ia juga menyebutkan bahwa makanan dalam program MBG tersebut dibagikan pada Selasa pagi (10/3/2026).

Seorang penerima manfaat lain berinisial D mengatakan kejadian tersebut bukan yang pertama kali terjadi di desa tersebut.

“Kalau viralnya video itu memang di Randublatung, tepatnya di Desa Kutukan. Sebenarnya ini sudah yang kedua kalinya,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pada kejadian sebelumnya warga juga sempat menerima makanan dalam kondisi tidak layak, yakni roti yang sudah berjamur.

“Yang pertama dulu warga sudah diam saja. Dulu kasusnya roti sudah berjamur, dan itu sudah diampuni warga. Tapi yang kedua ini malah lebih parah. Pokoknya tidak layak,” ungkapnya.

Menurutnya, kualitas makanan yang diterima warga jauh dari harapan masyarakat terhadap program pemerintah yang seharusnya ditujukan untuk membantu kelompok rentan.

“Ini seumpama dihitung, Rp5.000 dapat kembalian. Ngeri pokoknya,” katanya.

Video tersebut memicu berbagai reaksi dari warganet dan aktivis di Kabupaten Blora yang mempertanyakan kualitas makanan serta mekanisme pelaksanaan program MBG di lapangan.

Salah satu aktivis Blora berinisial H bahkan menyindir kualitas menu yang dibagikan.

“Luweh bergizi sesajen seng dibuak neng pojok sawah,” tulisnya.

Sementara aktivis lain berinisial A juga menyoroti mekanisme pembagian makanan yang disebut tidak dilakukan setiap hari.

“Hahahaha, makin lama MBG-nya seperti ini. Katanya di tempat Pak X malah tiga hari sekali,” tulisnya.

Ia juga mempertanyakan kesesuaian antara frekuensi pembagian makanan dengan anggaran yang dikucurkan pemerintah.

“Coba dihitung kalau MBG dibagikan tiga hari sekali total anggaran tidak sampai Rp30 ribu. Pegawainya juga bisa libur tapi tetap dibayar, sedangkan dari pemerintah tiap hari dibayar,” keluhnya.

(Redaksi/Hans)

error: Content is protected !!