Blok7.id – Wacana penerapan enam hari sekolah untuk jenjang SMA/SMK di Jawa Tengah memicu reaksi luas. Penolakan bahkan menjalar ke ruang publik melalui petisi di laman change.org.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Hingga Sabtu (22/11/2025), lebih dari 24.000 orang tercatat mendukung petisi yang dibuat Alfariz Hadi.
Petisi itu meminta Pemprov Jateng membatalkan rencana penambahan hari sekolah demi menjaga kesehatan mental dan fisik pelajar.
Dalam pernyataannya, pembuat petisi menilai kebijakan lima hari sekolah yang berlaku saat ini sudah memberikan dampak positif, terutama ruang istirahat dua hari yang dianggap penting bagi siswa. Mereka menilai perubahan justru berpotensi mengurangi kesejahteraan pelajar.
“Banyak siswa di sekolah SMA/SMK seluruh provinsi sudah merasa sangat tertekan dengan beban belajar saat ini. Menambah hari menjadi 6 hari sekolah akan lebih mengurangi waktu yang siswa butuhkan untuk rehat istirahat di akhir pekan,” tulis petisi tersebut.
Penolakan juga menyoroti tidak adanya jaminan bahwa siswa akan lebih produktif atau tidak semakin lelah saat sistem diubah kembali menjadi enam hari.
Sebelumnya, Pemprov Jateng menyampaikan tengah mengkaji kebijakan tersebut untuk diterapkan mulai Januari 2026.
Wakil Gubernur Taj Yasin mengatakan, konsep awal lima hari sekolah dimaksudkan memberi waktu berkumpul bersama keluarga, namun kondisi kini berubah.
Ia menjelaskan banyak orang tua bekerja enam hingga tujuh hari sepekan, sehingga sinkronisasi waktu anak dan orang tua menjadi salah satu alasan dilakukannya evaluasi.
Wacana ini juga muncul dari kekhawatiran soal durasi belajar yang menumpuk dalam lima hari. Plt Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Jateng, Agung Wijayanto, menyebut beban 10 jam belajar per hari membuat siswa kelelahan.
“Kalau 10 jam sehari itu kasihan anak-anak. Kebijakan ini melihat adanya kelelahan fisik dan mental pada siswa,” ujarnya.
Agung menambahkan, pembahasan telah dilakukan melalui forum group discussion (FGD) bersama sekolah, dan kebijakan itu disiapkan untuk diberlakukan pada semester genap tahun ajaran 2025/2026.
