Blok7.id – Sebuah riset internasional yang dipublikasikan di jurnal Nature Medicine mengungkap fakta besar soal pencegahan kanker.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Studi ini menyebut, lebih dari sepertiga kasus kanker di dunia sebenarnya bisa dicegah jika faktor risiko utamanya dikendalikan sejak dini.
Mengutip laman polri, penelitian tersebut menyatakan sekitar 38 persen kasus kanker baru secara global berasal dari faktor yang bisa dimodifikasi, seperti merokok, infeksi, dan konsumsi alkohol.
Data yang dirilis pada Jumat (6/2/2026) menunjukkan, dari 18,7 juta kasus kanker baru dunia pada 2022, sebanyak 7,1 juta kasus terkait langsung dengan penyebab yang dapat dikendalikan.
Jenis kanker yang paling banyak masuk kategori ini adalah kanker lambung, paru-paru, dan serviks, yang menyumbang hampir separuh dari total kasus yang seharusnya bisa dicegah.
Dalam studi yang mencakup 36 jenis kanker di 185 negara, rokok menempati posisi teratas sebagai faktor risiko terbesar. Merokok menyumbang 15 persen dari seluruh kasus kanker yang bisa dicegah. Posisi berikutnya ditempati infeksi dengan kontribusi 10 persen, disusul alkohol sebesar 3 persen.
Jika dilihat berdasarkan gender, dampaknya berbeda.
Pada pria, merokok menjadi pemicu utama dan bertanggung jawab atas hampir 25 persen kasus kanker yang seharusnya bisa dihindari.Sementara pada wanita, infeksi menjadi ancaman besar, terutama infeksi Human Papillomavirus (HPV) yang masih tinggi di wilayah berpenghasilan rendah seperti Afrika Sub-Sahara, di mana kanker serviks masih sangat dominan.
Studi ini juga mencatat adanya perbedaan pola risiko antarwilayah. Di negara berpenghasilan tinggi seperti Eropa dan Amerika Utara, rokok menjadi penyebab utama kanker pada laki-laki dan perempuan.
Sebaliknya, di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Selatan, faktor infeksi menjadi pemicu terbesar kedua setelah merokok.
Para peneliti menegaskan, temuan ini bukan sekadar data global, tetapi peta arah kebijakan. Pemerintah dan lembaga kesehatan diharapkan tidak lagi menggunakan pendekatan seragam dalam pencegahan kanker.
Strategi pencegahan harus disesuaikan dengan faktor risiko dominan di tiap wilayah, agar upaya menekan angka kanker bisa lebih efektif dan berdampak nyata di masa depan.
