Spread the love

Blok7.id – Kasus dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali jadi sorotan. Sejumlah siswa yang menjadi penerima manfaat justru menjadi korban, memunculkan kekhawatiran soal keamanan pangan di sekolah.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Guru Besar Mikrobiologi Klinik FK-KMK UGM, Prof. dr. Tri Wibawa, menegaskan pentingnya pemahaman masyarakat dan tenaga pendidik mengenai perbedaan antara alergi dan keracunan makanan.

Menurutnya, pengetahuan ini krusial agar langkah pertolongan pertama bisa dilakukan secara tepat ketika gejala muncul.

“Alergi makanan merupakan reaksi sistem kekebalan tubuh yang terjadi segera setelah mengonsumsi makanan tertentu. Bahkan dalam jumlah kecil, makanan pemicu alergi dapat menyebabkan gejala seperti biduran, pembengkakan saluran pernapasan yang memicu asma, hingga gangguan pencernaan,” jelas Tri, Kamis (9/10/2025).

Ia menjelaskan, dalam beberapa kasus, reaksi alergi bisa berujung fatal dan mengancam jiwa, dikenal sebagai anafilaksis. Sementara itu, keracunan makanan bukan disebabkan oleh sistem imun, melainkan karena masuknya kuman atau zat berbahaya ke dalam tubuh.

“Keracunan makanan biasanya menimbulkan gejala seperti sakit perut, muntah, dan diare, yang muncul beberapa jam hingga hari setelah mengonsumsi makanan tersebut,” terangnya.

Tri menambahkan, sebagian besar kasus keracunan memang tergolong ringan dan bisa sembuh tanpa pengobatan khusus. Namun, dalam kondisi tertentu, bisa berakibat serius jika tidak segera ditangani.Ia mencontohkan, bakteri seperti Salmonella sp. dan Escherichia coli (E. coli) memiliki mekanisme berbeda dalam menyebabkan keracunan.

“Salmonella patogenik dapat bertahan dari asam lambung dan menyerang mukosa usus, memicu peradangan serta luka pada dinding usus. Sedangkan E. coli penghasil toksin Shiga (Shiga toxin-producing E. coli / STEC) dapat menyebabkan penyakit tular makanan yang parah. Meskipun gejalanya mirip, mekanisme penyebabnya berbeda-beda tergantung jenis bakterinya,” ungkapnya.

Dalam konteks program MBG di sekolah, Tri menekankan pentingnya penanganan cepat dan tepat saat siswa menunjukkan tanda-tanda keracunan.

“Muntah dan diare dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit. Langkah paling penting dalam pertolongan pertama adalah mengganti cairan dan elektrolit yang hilang untuk mencegah dehidrasi,” ujarnya.

Ia menyarankan agar penderita banyak minum air putih atau cairan dengan suplemen elektrolit.

“Jika muntah masih terjadi, minumlah sedikit demi sedikit. Dan jika kondisi memburuk, segera cari pertolongan dari petugas kesehatan,” tambahnya.

Tri juga menjelaskan bahwa demam yang muncul saat keracunan bisa menjadi mekanisme alami tubuh untuk melawan infeksi.

“Demam membantu mengendalikan infeksi dengan memberi tekanan panas pada patogen dan meningkatkan efektivitas sistem kekebalan tubuh,” paparnya.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa pencegahan tetap menjadi kunci utama. Pengawasan ketat harus dilakukan di seluruh rantai produksi makanan MBG, mulai dari pemilihan bahan, penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi.

“Setiap tahap proses dapat menjadi titik masuk bagi bakteri, virus, jamur, atau parasit penyebab keracunan. Karena itu, standar kebersihan harus diterapkan secara optimal,” tegasnya.

Menutup penjelasannya, Tri mengingatkan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap perbedaan alergi dan keracunan makanan, serta langkah-langkah pencegahan yang tepat.

“Kata kuncinya adalah menjaga mutu bahan dan proses, menaati standar kebersihan, dan segera bertindak tepat ketika gejala muncul,” pungkasnya.

error: Content is protected !!