Jakarta, Blok7.id – Saat kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengancam aktivitas warga, pernyataan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kalimantan Tengah (Kalteng) Muhammad Reza Prabowo justru menyinggung soal dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ucapan Reza itu terekam dalam sebuah video yang kemudian viral di media sosial. Saat membahas kemungkinan sekolah diliburkan, dia menyebut penghentian aktivitas sekolah akan berdampak pada dapur MBG hingga kantin.
“Karena ketika sekolah diliburkan, berpengaruh juga pada dapur-dapur MBG (mati). Kita mengerti, Bapak Ibu ya? Bapak Ibu saya harap baik-baik saja punya kebijaksanaan juga dapur MBG mati bu, kantin-kantin mati bu habis itu,” jelasnya.
Pernyataan tersebut sontak menuai sorotan. Di tengah persoalan kabut asap yang menyangkut kondisi lingkungan dan keselamatan siswa, pertimbangan soal dapur MBG dan kantin justru ikut muncul dalam pembahasan kebijakan sekolah.
Reza juga mengkhawatirkan aktivitas siswa apabila sekolah diliburkan. Menurutnya, anak-anak justru bisa menghabiskan waktu di luar rumah.
“Belum lagi dampak ketika anak-anak diliburkan mereka yang seharusnya mereka di rumah mereka ke kafe-kafe buat keributan, buat masalah iya,” ungkap Reza.
Ia kembali menyebut persoalan yang mungkin muncul jika kegiatan sekolah dihentikan.
“Nanti kita yang pusing, Bu. Habis itu nanti ada ini orang tuanya apa segala macam. Nah, ini pusing lagi kita, Bu,” imbuhnya.
Potongan pernyataan itu kemudian memantik pertanyaan publik. Apakah keselamatan dan kesehatan siswa benar-benar menjadi pertimbangan utama ketika sekolah harus mengambil keputusan di tengah kabut asap?
Reza kemudian meminta masyarakat melihat pernyataannya secara utuh. Ia menilai video yang beredar hanya menampilkan sebagian dari pembahasan dalam rapat.
“Saya berharap kita jangan menerima informasi sepotong-sepotong,” ujar Reza, dilansir detikKalimantan, Selasa (1/9/2026).
Reza menjelaskan rapat tersebut tidak hanya membahas keberlangsungan MBG. Dinas Pendidikan Kalteng juga membicarakan kondisi kabut asap, mendengarkan aspirasi, serta mempertimbangkan sejumlah pilihan pola pembelajaran, termasuk pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Ia membantah pihaknya lebih mengutamakan MBG dibandingkan keselamatan peserta didik.
“Memang potongan video di mana rapatnya itu lama sekali. Kita juga mendengarkan aspirasi dan itu belum akhir dari rapat itu. Tidak benar kalau Bapak lebih mengutamakan MBG. Tentu, tentu. Kita harus mengutamakan keselamatan,” tegasnya.
