BLORA, Blok7.id – Pemerintah Kabupaten Blora secara serius mulai menggarap potensi lokalnya, terutama di sektor pangan dan energi, melalui kerja sama strategis dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Kerja sama ini diharapkan mampu mendorong industrialisasi dan pemanfaatan lahan kering secara optimal.
Kedatangan rombongan ITS ke Blora, termasuk Prof. Kapitana (putra daerah Blora) dan Dr. Taufani selaku Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat, disambut hangat oleh Pemkab Blora.
Fokus utama pembahasan adalah pengembangan varietas unggul dan pendirian pabrik pengolahan di Blora, yakni sorgum, solusi menghijaukan lahan kering.
“Blora memiliki potensi lahan non-kawasan yang luas, diperkirakan mencapai 64.000 hektar, yang merupakan lahan kering,” ucap Bupati Arief Rohman, Senin (6/10/2025).
Untuk mengatasi tantangan ini, lanjut dia, Pemkab Blora dan ITS sepakat mendorong penanaman sorgum, varietas tanaman pangan yang dikenal tahan terhadap kekeringan.
“Sorgum ini adalah kunci untuk menghijaukan lahan kering kami. Selain sebagai sumber pangan, sorgum juga memiliki nilai ekonomi tinggi,” ujar Bupati Arief.
Melalui pendampingan ITS, sorgum tidak hanya akan menjadi bahan pangan biasa. Kerja sama ini menargetkan pengembangan produk-produk olahan turunan, mulai dari gula merah sorgum, kecap sorgum, hingga pemanfaatan batang sisa panen untuk dikonversi menjadi bioetanol.
“Selain sorgum, potensi komoditas pangan lain seperti tebu dan jagung juga akan ditingkatkan,” terangnya.
Selain pangan, Tambah Bupati Arief, Blora juga bergerak cepat dalam sektor energi terbarukan. Pemkab dan ITS membahas pemanfaatan Hutan Energi (Hutan Produksi) untuk penanaman kayu Gamal dan Kaliandra.
“Tanaman energi ini nantinya akan menjadi sumber biomassa yang akan diserap oleh Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebagai bagian dari program co-firing biomassa,” terangnya.
Langkah ini sangat strategis untuk memenuhi target bauran energi nasional yang mewajibkan penggunaan biomassa sebesar 10% sebagai campuran bahan bakar.
“Potensi ini telah menarik minat besar dari perusahaan-perusahaan listrik dan biomassa,” tandas Bupati Blora.
Prioritas Mencari Investor untuk Pabrik Pengolahan
Dr. Taufani dari ITS menekankan pentingnya mendirikan pabrik pengolahan di Blora segera.
“Sorgum ini harus segera diolah setelah panen untuk menjaga kualitasnya. Kami akan berupaya bersama Pemkab Blora untuk mendapatkan investor yang serius agar industrialisasi pangan dan energi ini bisa berjalan cepat dan optimal,” jelasnya.
Kerja sama ini menandai komitmen Blora untuk beralih dari sekadar penghasil bahan mentah menjadi daerah yang memiliki nilai tambah melalui industrialisasi berbasis teknologi perguruan tinggi. (Hans)
