Spread the love

Blok7.id – Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PKS Ateng Sutisna menanggapi rencana pemerintah menerapkan mandatori biodiesel 50% (B50) pada semester kedua 2026 sebagaimana disampaikan oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Ia menilai langkah pemerintah untuk mempercepat implementasi B50 perlu dipertimbangkan lebih matang, baik dari sisi keseimbangan ekologi maupun kesiapan teknis mesin yang digunakan dimana selama ini masih menggunakan solar.

“Saya minta Pemerintah jangan terburu-buru. Kita tentu mendukung transisi energi yang berkelanjutan, tapi kebijakan B50 harus mempertimbangkan kesiapan teknologi dan dampak lingkungannya. Jangan sampai niat baik justru menimbulkan masalah baru,” ujar Ateng.

Menurutnya, strategi pemerintah yang mencakup intensifikasi lahan sawit dan pembukaan lahan baru demi memenuhi kebutuhan sekitar 19 juta ton CPO untuk B50 berpotensi besar menekan keseimbangan ekologi dan memperluas risiko deforestasi.

“Kita harus berhati-hati. Pembukaan lahan baru untuk sawit bisa menimbulkan tekanan pada ekosistem hutan, keanekaragaman hayati, dan tata air. Transisi energi tidak boleh menghasilkan kerusakan lingkungan,” tegasnya.

Selain faktor ekologi, Ateng juga mengingatkan adanya risiko ketidaksesuaian biodiesel tinggi (B50) dengan karakteristik mesin kendaraan berat, seperti kapal, kereta, dan alat konstruksi, yang saat ini masih dalam tahap uji coba.

“Dari berbagai laporan teknis, campuran biodiesel tinggi bisa memengaruhi performa mesin tertentu, terutama pada sektor transportasi berat. Pemerintah perlu memastikan uji coba dilakukan menyeluruh dan hasilnya transparan sebelum diterapkan secara massal,” jelasnya.

Ateng menekankan bahwa kebijakan energi harus mengutamakan prinsip kehati-hatian dan berbasis data ilmiah, bukan hanya pada dorongan target politik atau ekonomi jangka pendek semata.

“Jangan sampai karena ingin cepat mencapai target B50, kita justru menghadapi masalah baru seperti biaya perawatan mesin yang tinggi dan dampak lingkungan yang sulit dipulihkan,” tutupnya.

Foto ESDM

error: Content is protected !!