BLORA, Blok7.id – Ratusan petani tebu di Kabupaten Blora saat ini menghadapi situasi genting setelah ditutupnya PT Gendhis Multi Manis (GMM) Todanan.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Sekitar 500 hektare lahan tebu terancam tidak dapat digiling, sementara musim panen berpacu dengan datangnya musim hujan yang membuat akses ke ladang kian sulit.
Kepanikan petani langsung direspon cepat oleh DPRD Blora. Ketua DPRD Blora, Mustopa, memimpin audiensi dengan perwakilan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Senin (20/10/2025).
Mustopa menegaskan kondisi ini memerlukan solusi cepat agar petani tidak merugi.
”Petani tebu benar-benar pusing. Pabrik GMM tutup, ada isu PG Trangkil juga akan berhenti. Sekitar 500 hektare tebu belum bisa ditebang, padahal hujan sudah mulai,” ujar Mustopa.
DPRD Blora bergerak cepat dengan menjajaki kerja sama penyerapan tebu rakyat bersama Direktur Perum Bulog. Meski belum ada kepastian langsung, Mustopa menyebut Bulog akan membahas skema terbaik pada perbaikan sistem 2026.
Sebagai solusi jangka pendek paling realistis, Mustopa juga fokus mengupayakan perpanjangan masa giling di Pabrik Gula (PG) Trangkil Pati.
“Kalau masa giling bisa diperpanjang, petani Blora bisa sedikit lega. Setidaknya hasil panen 500 hektare bisa terselamatkan,” imbuhnya.
Selain masalah pemasaran, petani juga meminta bantuan teknis akibat hujan. Mustopa menyampaikan permintaan petani agar tiap lokasi disiapkan alat berat atau bego untuk membantu akses truk pengangkut tebu, mengingat medan yang mulai berlumpur.
Sebagai langkah strategis, DPRD Blora siap memfasilitasi pertemuan langsung antara perwakilan petani tebu dengan Menteri atau Wakil Menteri terkait.
”Kita siap menjembatani aspirasi ini. Petani ingin bicara langsung dengan Menteri atau Wamen, dan DPRD akan bantu fasilitasi. Ini harus ada solusi nyata,” pungkas Mustopa, menekankan perlunya intervensi pemerintah pusat untuk menyelamatkan ekonomi lokal yang terpukul oleh penutupan GMM. (Hans)
