Spread the love

BLORA, Blok7.id – Dugaan pemotongan anggaran makanan dalam program MBG (Makan Bergizi Gratis) mencuat di Desa Bradag setelah warga bernama Halimah memprotes ketidaksesuaian nilai makanan yang diterima anak-anak pada 15 dan 17 Januari 2026.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Untuk dua hari tersebut, anggaran resmi yang seharusnya diterima adalah Rp20.000 per anak (Rp10.000 per hari). Namun berdasarkan penimbangan dan pencocokan harga pasar, nilai makanan yang diterima hanya berkisar Rp14.000-Rp15.000.

img-20260119-wa0002

“Ini bukan asumsi. Saya timbang, saya cocokkan dengan harga pasar, dan ada fotonya. Anggaran dua hari itu 20 ribu, tapi yang masuk ke anak hanya 14 ribuan,” tegas Halimah, Sabtu (17/1/2026).

Lanjut Halimah, menu dua hari yang dibagikan terdiri dari:

– Apel merah (bukan Fuji super)
Berat: ±113 gram
Harga pasar: ±Rp40.000/kg
Nilai per buah: ±Rp5.300

– Susu Prenagen: Rp5.500-Rp6.000

– Roti: Rp2.500-Rp3.000

– Total nilai riil: ±Rp14.000

“Padahal, sebelumnya apel tersebut dikira apel Fuji super dengan harga Rp15.000-Rp20.000 per buah (berat 200-300 gram). Setelah ditimbang, apel yang dibagikan diketahui merupakan apel merah grade biasa (apel Ana) yang harganya jauh lebih murah,” jelas Halimah.

Selain soal dua hari anggaran, Halimah juga menyoroti menu TK/PAUD yang seharusnya memiliki anggaran Rp8.000 bersih per hari (dari total Rp13.000, dengan Rp5.000 untuk operasional). Namun menurutnya, nilai makanan yang diterima bahkan tidak mencapai Rp8.000.

“Yang TK ini lebih kebangetan. Itu menu sehari, tapi nilainya tidak sampai 8 ribu. Ini bukan miskomunikasi, ini murni tidak sesuai,” ujarnya.

Menanggapi protes tersebut, Kepala Desa Bradag, Luluk Nasruatin, sekaligus pemilik SPPG Ngawen, menyampaikan bahwa seluruh pengadaan dilakukan melalui BUMDes dan telah memiliki RAB.

“Bahkan disebut sudah dihitung oleh akuntan dan ahli gizi serta mendapat persetujuan kepala SPPG,” tulis Luluk Nasruatin dalam percakapannya dengan Halimah melalui pesan singkat WhatsApp.

img-20260119-wa0001

Namun Halimah mempertanyakan transparansi tersebut dan meminta kontak pihak-pihak yang disebutkan.

“Ini bukan soal bodoh atau pintar, Bu. Ini soal jujur dan amanah mengelola uang negara. Jenengan punya HP canggih, bisa cari tahu soal markup,” kata Halimah dalam dialog tersebut.

Pihak desa menyatakan akan melakukan perbaikan ke depan, namun tidak secara eksplisit menyampaikan permintaan maaf atas ketidaksesuaian yang terjadi.

Halimah mengingatkan bahwa selisih Rp3.000-Rp6.000 per anak bukan angka kecil jika dikalikan jumlah penerima.

“Kalau 3.000 saja dikali 3.000-3.500 anak, itu sudah 9-10,5 juta per tiga hari. Itu uang negara,” ujarnya.

Menurutnya, keuntungan usaha katering tetap bisa diperoleh tanpa harus memangkas anggaran makanan anak.

“Untung seribu per orang saja sudah besar. Kalau tidak mau masak sesuai anggaran, ya jangan jadi dapur MBG,” tegasnya.

Halimah menegaskan bahwa tujuannya bukan mencari sensasi atau konflik, melainkan perbaikan.

“Saya tidak peduli dibenci. Yang saya pedulikan, ke depan makanan sesuai anggaran. Tidak ada korupsi. Tidak ada anak yang dirugikan,” tandasnya.

Ia juga berharap para orang tua tidak mengalami intimidasi dan berani bersuara jika menemukan ketidaksesuaian serupa.

“Tidak semua yang lembut itu jujur. Saya ceplas-ceplos, tapi jujur. Uang ini amanah rakyat. Kalau tidak takut dunia, setidaknya takut akhirat,” tandasnya.

Lanjut Halimah, setelah debat eyel-eyelan menu mulai hari ini, Senin (19/1/2026) diperbaiki.

“Soalnya saya tidak mau mengalah, wong aku bener sesuai peraturan perpres. Aku bar debat sama dapurnya setelah eyelan eyelan. Lah emang salah kog. Akhirnya kesepakatan diperbaiki. Kan dia asalnya speak aku minta maaf . Minta maaf itu soal hari. Bukan soal anggaran, soal anggaran dia tetap diduga korupsi. Bukti kuat ada kog. Dan Alhamdulillah hari ini sudah mulai perbaikan,” ungkap Halimah.

Sementara itu, Wakil Bupati Blora Sri Setyorini dan juga sebagai Ketua Satgas Percepatan Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Blora, saat disinggung terkait masalah tersebut diatas mengatakan, tunggu dulu ya nanti saya berikan jawaban.

“Tak semedi dulu sebelum komentar dan melangkah, nanti tak sampaikan ke jenengan hasil semedinya, hehehe,” tandas Bude Rini panggilan akrabnya, melalui pesan singkat WhatsApp.

Sebelumnya diberitakan di media Blok7.id, dengan judul yang pertama ‘Penyimpangan Program MBG di Ngawen Blora, Warga Keluhkan Jatah Makanan dan Dugaan Intimidasi’.

Dan judul yang kedua ‘Kades Bradag Buka Data: Program B3 SPPG Ngawen Tak Serap Anggaran Libur, Dua Hari Penyaluran Sesuai RAB’.

(Redaksi/Hans)

error: Content is protected !!