JATI, BLORA, Blok7.id – Dunia pendidikan di Kecamatan Jati tercoreng oleh aksi arogan seorang oknum pendidik SR, yang menjabat sebagai Kepala Sekolah SD B, diduga melakukan penganiayaan terhadap TOPI, seorang siswa dari SDN A, hingga mengakibatkan luka cakar dan memar serius di bagian wajah.

​Peristiwa memilukan ini terjadi di sela-sela perlombaan voli dalam rangka HUT SMPN 1 Doplang, Selasa (28/4/2026). Ironisnya, tindakan kekerasan ini diduga dipicu oleh kesalahpahaman sepele saat korban hendak menunjukkan sportivitas.

​Kronologi: Niat Salaman Berujung Cekikan

​Berdasarkan keterangan Jum, sahabat orang tua korban, kejadian bermula saat tim SDN A bertanding melawan SD B. Setelah pertandingan yang sengit, TOPI berniat mendekat untuk bersalaman dengan siswa SD B sebagai bentuk penghormatan antar atlet.

​Namun, niat baik tersebut direspons secara brutal oleh SR. Oknum Kepala Sekolah tersebut diduga salah sangka dan mengira TOPI akan mendorong muridnya.

​”TOPI dicakar oleh Kepala Sekolah SD B (SR) dan dicekik sampai mukanya kelihatan merah. Muka TOPI sampai ke bawah itu merah semua dan memar,” ungkap Jum kepada wartawan.

​Aksi brutal SR bahkan sempat memicu keributan antar-guru. FR, guru olahraga dari SDN A yang mencoba melindungi muridnya, terlibat adu mulut dengan SR yang tersulut emosi.

​Ironi “Uang Damai” Rp150 Ribu

​Hal yang paling menyayat hati adalah upaya penyelesaian kasus ini. Alih-alih mendapatkan perlindungan hukum yang tegas, orang tua korban dikabarkan hanya didatangi pihak sekolah untuk diarahkan pada jalur damai, dengan kompensasi yang dianggap menghina rasa keadilan.

​”Sangat disayangkan, orang tua korban cuma diberi uang damai Rp150 ribu. Seumpama itu anak saya, ya saya pasti tidak terima. Kalau seperti itu wajib dilaporkan ke Polisi,” tegas Jum dengan nada geram.

Senada, GR tokoh masyarakat Doplang mengatakan, keluarga korban didatangi rombongan dari sekolah pelaku saat ayah korban tidak berada di rumah.

​Memanfaatkan kondisi ibu korban yang terguncang karena didatangi banyak orang, pihak sekolah pelaku menyerahkan uang senilai Rp150.000. Upaya damai murah ini dinilai sebagai cara pengecut untuk menghindari jeratan hukum atas penganiayaan anak di bawah umur.

​”Namanya ibu-ibu didatangi orang banyak, pasti tidak bisa berkata apa-apa. Tapi setelah bapaknya pulang, beliau tidak terima. Langsung visum dan lapor polisi,” tegas GR, tokoh masyarakat Doplang yang mengawal kasus ini.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Jati, Ipda Bowo telah menerima pengaduan tersebut dan akan segera ditindaklanjuti.

“Untuk selanjutnya perkaranya akan kita serahkan ke Unit PPA (Unit Pelayanan Perempuan dan Anak) Polres Blora dengan membawa akta kelahiran dan kartu keluarga (KK),” ungkap Kanit Bowo..

​Pendidikan dalam Darurat Kekerasan

​Kasus ini menambah daftar panjang kekerasan di lingkungan pendidikan yang melibatkan tenaga pendidik. Hingga berita ini diturunkan, masyarakat mendesak pihak Dinas Pendidikan dan kepolisian setempat untuk bertindak tegas tanpa pandang bulu.

​Luka fisik pada wajah TOPI mungkin akan sembuh, namun trauma psikologis akibat dicekik oleh seorang pimpinan sekolah di depan umum tentu akan membekas seumur hidup.

Publik kini menunggu, apakah hukum bisa dibeli dengan lembaran seratus ribu, atau keadilan bagi siswa kecil ini akan ditegakkan?

(Redaksi/Hans)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!