BLORA, Blok7.id – Insiden berdarah yang menimpa seorang anggota ormas di Blora menjadi pemantik api perlawanan terhadap praktik mafia migas yang kian berani menampakkan diri.
Luka parah yang diderita korban berinisial BLS anggota ormas Grib Jaya Blora, kini bukan sekadar catatan medis, melainkan simbol perlawanan rakyat terhadap arogansi oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) yang diduga kuat menjadi pemain di balik bisnis ilegal ‘Latung’.
Langkah berani pihak korban yang menarik kasus ini ke Polda Jawa Tengah menjadi kabar baik bagi penegakan hukum di wilayah hukum Jawa Tengah. Hal ini dianggap sebagai momentum emas untuk membersihkan jaringan mafia solar yang selama ini terkesan tak tersentuh.
Peristiwa yang terjadi di kawasan Pom Mini Sendang Kamulyan ini mengungkap sisi gelap seorang abdi negara berinisial Ppn. Saat gabungan ormas (Grib Jaya dan Pemuda Pancasila) berusaha mengamankan truk tangki yang diduga memuat minyak ilegal (latung) dari Plantungan, Ppn justru datang membawa massa sekitar 40 orang.
Alih-alih bersikap persuasif, Ppn melakukan aksi anarkis dengan menyundul pelipis BLS secara brutal sebanyak dua kali.
”BLS sedang duduk, tiba-tiba Ppn menyerang. Akibatnya luka parah dan harus dijahit empat jahitan di RSUD Blora,” ungkap seorang saksi mata, Sabtu (2/5/2026).
Keberanian ormas dalam mendokumentasikan dan melaporkan kejadian ini menjadi titik terang bahwa masyarakat tidak lagi takut menghadapi premanisme berbalas seragam dinas.
Ppn secara provokatif mengklaim tindakan kekerasannya sebagai upaya membela ‘urusan perut’. Namun, di balik narasi tersebut, ia disinyalir merupakan pemilik sumur minyak ilegal yang merasa terusik.
Ironisnya, lanjut saksi mata, saat kericuhan pecah, truk-truk yang seharusnya menjadi barang bukti utama justru ‘menguap’ dan dibawa lari kembali ke arah Plantungan.
“Hal ini menguatkan dugaan adanya koordinasi sistematis untuk menutupi jejak kejahatan ekonomi tersebut,” lanjutnya.

Saat ini, BLS masih menjalani perawatan intensif di RSUD Blora. Meski fisik terluka, semangat rekan-rekan korban justru semakin membara. Mereka memastikan tidak akan mundur sejengkal pun dalam mengawal kasus ini.
”Kami punya saksi dan bukti kuat. Jika Polres Blora tidak mampu, biarkan Polda Jateng yang bertindak. Tindakan pengecut ini harus dibayar dengan proses hukum yang transparan!” tegas saksi Z dengan nada geram.
Kini, bola panas ada di tangan Polda Jateng. Publik menanti keberanian Kapolda untuk membongkar jaringan mafia solar di Blora hingga ke akar-akarnya, tanpa pandang bulu terhadap oknum ASN maupun aparat yang bermain di zona hitam tersebut.
(Redaksi)
