Jakarta. Blok7.id – Pemerintah terus mengevaluasi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Salah satu langkah tegas yang diambil adalah menindak dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dinilai bermasalah.
Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan, sudah lebih dari 1.000 dapur MBG yang disuspend oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Kebijakan ini diambil setelah pemerintah melakukan pengecekan langsung di lapangan.
”Saya langsung cek. Panggil kepala BGN, dan saya terus cross-check,” kata Prabowo dikutip pada Jumat (20/3).
Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari evaluasi menyeluruh. Pemerintah ingin memastikan program MBG berjalan dengan standar tinggi, apalagi program ini berkaitan langsung dengan masa depan generasi muda.
Prabowo menegaskan, berbagai kritik yang masuk tidak diabaikan. Justru, kritik tersebut dijadikan bahan perbaikan.
Ia bahkan mengirim tim khusus untuk melakukan inspeksi langsung. Hasilnya, ditemukan banyak dapur yang tidak memenuhi standar.
”Saya kirim orang-orang saya yang ngecek. Saya kira, kalau nggak salah ya, dari sekian puluh ribu dapur, sudah kita tutup lebih dari seribu. Lebih dari seribu. Ini saya punya wakil kepala satu ibu, ibu ini, ibu Nanik ya. Ini galak sekali dia. Dia sidak terus kerjanya. Yang sudah di-suspend 1.030,” terang dia.
Selain penindakan, BGN juga tengah mempercepat proses sertifikasi seluruh dapur MBG di Indonesia. Sertifikasi tersebut mencakup berbagai aspek penting, mulai dari kebersihan, keamanan makanan, kualitas air, hingga proses memasak dan peralatan yang digunakan.
Dapur yang belum memenuhi syarat akan tetap disuspend sampai dilakukan perbaikan sesuai standar.
Tak hanya itu, pemerintah juga membuka ruang pengawasan dari masyarakat. Sekolah, orang tua, hingga warga sekitar diberi akses untuk ikut memantau dan melaporkan jika ditemukan masalah.
”Siapapun boleh cek. Kepala sekolah, orang tua, masyarakat sekitar boleh masuk dan komplain,” kata Prabowo.
Di sisi lain, Prabowo menyoroti pentingnya perubahan budaya dalam pelaporan program. Ia mengingatkan agar tidak lagi ada laporan yang hanya menampilkan sisi baik saja.
”Laporan yang hanya bagus-bagus itu budaya yang tidak baik. Kita harus berani menghadapi realitas,” imbuhnya.
