Spread the love

Blok7.id – Sebuah video yang memperlihatkan momen haru diduga karyawan PT Gudang Garam Tbk ramai diperbincangkan di media sosial.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Dalam rekaman tersebut tampak pekerja berseragam merah dan biru dikumpulkan di sebuah aula. Mereka disebut-sebut tengah menerima keputusan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.

Suasana video itu pun mengundang perhatian. Beberapa pekerja tampak menangis dan saling berpelukan sebelum meninggalkan ruangan. Hingga kini belum diketahui kapan video tersebut pertama kali diunggah, namun tagar seputar Gudang Garam menjadi perbincangan hangat di lini masa.

Keuangan Gudang Garam Merosot Tajam

Di tengah isu PHK ribuan karyawan, laporan keuangan Gudang Garam menunjukkan kinerja yang merosot tajam. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan per 30 Juni 2025, perusahaan mencatat laba bersih hanya Rp120,2 miliar pada semester I 2025. Angka itu anjlok 87% dibandingkan Rp925,5 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.

Pendapatan perusahaan ikut tergerus menjadi Rp44,36 triliun, turun dari Rp50,02 triliun pada semester I 2024. Padahal beban biaya pokok pendapatan masih tinggi, yakni Rp40,58 triliun. Porsi terbesar berasal dari kewajiban pita cukai dan pajak rokok yang mencapai Rp32,89 triliun.

Laba bruto Gudang Garam akhirnya terpangkas menjadi Rp3,78 triliun dari sebelumnya Rp5,07 triliun. Setelah dikurangi beban usaha Rp3,41 triliun dan beban bunga Rp219,3 miliar, laba sebelum pajak menyusut menjadi Rp294,3 miliar. Usai pajak, keuntungan bersih tinggal Rp120,2 miliar.Beban utang juga masih membayangi. Per 30 Juni 2025, total liabilitas perusahaan tercatat Rp18,73 triliun, memang lebih rendah dibandingkan Rp23,02 triliun pada akhir 2024. Namun sebagian besar masih berupa utang jangka pendek.

Pinjaman bank jangka pendek mencapai Rp5,2 triliun. Rinciannya, dari BNI Rp3,96 triliun, BCA Rp803 miliar, dan Bank Mandiri Rp436 miliar. Angka tersebut turun dibandingkan Rp9,38 triliun pada akhir tahun lalu.

Selain itu masih ada utang bea cukai, PPN, dan pajak rokok senilai Rp8,84 triliun, ditambah dividen utang Rp962 miliar hingga konstruksi utang Rp418,8 miliar.

Dengan tekanan biaya bahan baku, upah pekerja, hingga pungutan cukai, ruang laba perusahaan makin tipis. Imbasnya, laba per saham Gudang Garam turun drastis menjadi Rp61 per lembar, dari sebelumnya Rp481 pada semester I 2024.

Adapun hingga kini pihak manajemen Gudang Garam belum menyampaikan keterangan resmi terkait isu PHK massal tersebut.

error: Content is protected !!