Spread the love

Blok7.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi menyerahkan sejumlah aset negara berupa gedung strategis kepada Kementerian Kebudayaan.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Serah terima alih status Barang Milik Negara (BMN) itu ditandai dengan penandatanganan berita acara antara Kepala BRIN Laksana Tri Handoko dan Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Gedung A, Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Rabu (17/9/2025).

Handoko menyebut langkah ini bagian dari upaya optimalisasi aset negara agar tidak terbengkalai.

“Sejak awal kami sudah memetakan infrastruktur potensial, sementara aset lain kami optimalkan agar dapat lebih bermanfaat. Karena ini aset merah putih, selama digunakan untuk kepentingan merah putih, kita patut bersyukur,” ujarnya.

Ada delapan gedung strategis yang dialihkan. Beberapa di antaranya eks Balai Arkeologi (Balar) Medan, eks Balar Palembang, Balar Banjarmasin, serta gedung-gedung eks Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) di Banten, Lampung, Rembang, Pacitan, dan Mojokerto.

Handoko memastikan sebagian besar aset diserahkan dalam kondisi siap pakai, lengkap dengan sarana pendukung hingga sumber daya manusia (SDM).

“Kalau kami mengalihkan, saya wajibkan mengalihkan dengan isinya, sehingga yang ini siap pakai dengan peralatan lengkap. Bahkan termasuk kendaraan, dan termasuk SDM-nya,” jelasnya.

Ia menambahkan pentingnya kolaborasi antara BRIN dan Kementerian Kebudayaan, terutama untuk pengembangan arkeologi dan pelestarian budaya.

“Dengan keterlibatan arkeolog senior dan peneliti internasional, kita berharap lahir arkeolog-arkeolog unggul yang mampu mengangkat kekayaan budaya Nusantara dan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat,” terangnya.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai penyerahan aset ini bukan sekadar administrasi, tetapi langkah strategis mendukung perlindungan dan pengembangan kebudayaan nasional.

“Alih status BMN ini mencerminkan komitmen tata kelola yang transparan dan akuntabel. Lebih dari itu, aset ini akan mempercepat pendirian Balai Pelestarian Kebudayaan di berbagai provinsi,” ujarnya.

Fadli menegaskan gedung-gedung itu tak hanya berfungsi administratif, melainkan juga menjadi pintu masuk penguatan riset arkeologi.

Ia menyinggung potensi besar situs Mojokerto dan Trowulan yang baru-baru ini dipetakan dengan teknologi LIDAR, serta riset seni cadas di Maros-Pangkep dan Raja Ampat.

“Lukisan-lukisan prasejarah ini tidak hanya menjadi bukti estetika, tetapi juga merekam cara hidup dan pengetahuan leluhur kita,” katanya.

Menurut Fadli, temuan-temuan tersebut membuka peluang lahirnya teori baru tentang asal-usul migrasi bangsa Nusantara.

“Kita harus berani membangun narasi besar bahwa Indonesia adalah salah satu peradaban tertua di dunia,” tegasnya.

Sekjen Kementerian Kebudayaan, Bambang Wibawarta, menambahkan penandatanganan ini menandai tuntasnya proses administrasi alih status BMN.

“Semoga ini menjadi contoh praktik baik dalam pengelolaan BMN yang tertib, efisien, dan berdampak positif bagi pelayanan publik,” ujarnya.

Foto: BRIN

error: Content is protected !!