Spread the love

​BLORA, Blok7.id – Musim panen raya yang seharusnya menjadi puncak harapan bagi petani tebu di Blora justru berubah menjadi kekecewaan.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Pabrik Gula Gendhis Multi Manis (GMM) yang berlokasi di Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora dikabarkan memutuskan untuk menghentikan operasional penggilingan (tutup) jauh lebih awal dari jadwal yang diperkirakan.

Keputusan ini menuai protes keras dari kalangan petani, yang tebunya terancam tidak terangkut dan membusuk di ladang.

​Utamakan Tutup Daripada Perbaikan Alat

​Keputusan GMM untuk mengakhiri musim giling secara prematur diduga kuat disebabkan oleh masalah teknis dan kerusakan mesin yang berulang.

Alih-alih melakukan perbaikan menyeluruh dan mempertahankan operasional demi menyerap hasil panen petani, manajemen GMM disinyalir memilih jalur pintas dengan menghentikan giling.

​”Musim giling ini kan hanya sekali setahun, di masa panen raya. Kami sudah siap dengan tebu terbaik, tapi pabrik malah memilih tutup. Ini namanya lari dari tanggung jawab,” ujar NG dari KPTR (Koperasi Petani Tebu Rakyat) MANTEB, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Kamis (25/9/2025).

​Menurut petani, masalah alat dan efisiensi pabrik sudah menjadi isu klasik. Dalam beberapa kesempatan operasional giling, pabrik sering mengalami breakdown (kerusakan) yang menyebabkan antrean panjang dan penurunan kualitas rendemen tebu.

Petani menyayangkan bahwa di tengah musim giling, manajemen GMM dinilai tidak memprioritaskan perbaikan alat berat.

​”Kalau alasannya mesin rusak, kenapa tidak disiapkan perbaikan alat yang memadai sejak sebelum musim giling dimulai? Lebih parah lagi, saat giling berjalan begini, kenapa memilih tutup total daripada berjuang memperbaiki mesin agar giling bisa lanjut,” tambah NG dengan nada kecewa.

​Dampak Besar pada Petani dan Ekonomi Lokal

​Penutupan pabrik gula di tengah masa panen raya membawa dampak ekonomi yang sangat serius. Ribuan ton tebu petani di Blora dan sekitarnya terancam tidak tergiling.

​Tebu Anjlok: Petani terpaksa harus berburu pabrik gula lain di luar daerah (tebu tamasya), yang otomatis memotong keuntungan mereka karena biaya transportasi yang tinggi dan potensi penurunan kualitas tebu.

screenshot_222

​Kerugian Ganda: Selain terhambatnya penjualan, keterlambatan giling juga berpotensi menyebabkan rendemen (kadar gula) tebu menurun drastis, yang berarti harga jual tebu mereka akan semakin rendah.

​Stabilitas Gula: Keputusan ini dikhawatirkan juga akan memengaruhi target produksi gula nasional dan stabilitas harga di pasar lokal.

​Pemerintah Daerah Kabupaten Blora didesak untuk segera turun tangan memediasi konflik ini.

Petani menuntut transparansi dari manajemen GMM mengenai kondisi teknis pabrik dan meminta jaminan bahwa sisa tebu mereka akan tetap terserap dengan harga yang wajar dan tidak merugikan.

​Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak manajemen PT Gendhis Multi Manis (GMM) Blora terkait alasan pasti penutupan operasional giling lebih awal dibandingkan perbaikan alat. (Hans)

error: Content is protected !!