Spread the love

PATI, Blok7.id – Suasana Balai Desa Asemapan, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, Kamis (6/11/2025), mendadak memanas. Puluhan warga yang tergabung dalam Forum Masyarakat Asemapan Bersatu (FMAB) menggeruduk kantor desa sambil meneriakkan tuntutan perubahan.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Dalam aksinya, massa membawa empat tuntutan utama yang ditujukan kepada Pemerintah Desa Asemapan dan Bupati Pati, Sudewo. Mereka mendesak agar Kepala Desa Asemapan, Sukarno, segera dicopot dari jabatannya karena dinilai arogan, tidak transparan dalam pengelolaan dana desa, dan membuat kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada warga.

Selain pemecatan Kades, warga juga menuntut audit menyeluruh terhadap pembangunan infrastruktur desa tahun 2020–2025, serta transparansi seluruh penggunaan dana desa.

Tuntutan lainnya, FMAB meminta agar Peraturan Desa (Perdes) yang disebut melarang pelaksanaan Haul Makam Mbah Panggeng segera dicabut.

Mereka juga menolak aliran limbah dari Pabrik Gula Trangkil yang dianggap mencemari lahan pertanian warga.

Bayu Iriantono, penanggung jawab aksi, menyatakan bahwa warga sudah kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Sukarno.

“Desa bukan milik pribadi, tapi milik semua warga. Asemapan harus bersih, bukan dikotori dengan kesewenang-wenangan. Kami menagih janji Bupati untuk berpihak kepada rakyat. Ini bentuk perlawanan terhadap kebijakan sepihak dan pembodohan masyarakat,” tegas Bayu dalam orasinya.

Menanggapi desakan tersebut, Kepala Desa Asemapan Sukarno akhirnya menemui warga. Ia membantah tudingan adanya pelarangan Haul Makam Mbah Panggeng.

“Kami tidak melarang haul, hanya mengubah jadwal pelaksanaan dari bulan Rabiul Akhir ke bulan Dzulhijjah. Itu hasil musyawarah bersama tokoh masyarakat dan lembaga desa,” ujar Sukarno menegaskan.

Terkait tuduhan penyalahgunaan dana desa, Sukarno juga membantah keras. Menurutnya, seluruh anggaran telah digunakan sesuai prosedur dan aturan yang berlaku.

“Semua pekerjaan sudah dilaksanakan sesuai RAB dan peraturan. Tidak ada penyimpangan,” katanya.

Sedangkan untuk persoalan limbah Pabrik Gula Trangkil, pihak desa berjanji akan berkoordinasi dengan pihak pabrik guna mencari solusi agar petani tidak dirugikan.

Meski sempat berlangsung tegang, aksi FMAB berakhir kondusif setelah dialog terbuka antara warga dan pihak pemerintah desa. Namun, massa menegaskan akan melanjutkan aksi ke tingkat kabupaten bila tuntutan mereka tidak ditindaklanjuti dalam waktu dekat.

(Laporan: Doni / Editor: Redaksi Blok7.id)

error: Content is protected !!