Spread the love

BLORA, Blok7.id – Kematian tragis SKN (58), Kepala Dusun (Kadus) Desa Bekutuk, Kecamatan Randublatung, menyisakan tanda tanya besar. Di tengah dugaan warga soal tekanan hidup dan persoalan ekonomi, pihak kepolisian justru menegaskan peristiwa tersebut sebagai kecelakaan murni.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Insiden ini kembali membuka luka lama, perlintasan kereta api tanpa palang pintu yang terus memakan korban.

SKN ditemukan meninggal dunia di jalur rel kereta api jurusan Jakarta-Banyuwangi, tepatnya di Dukuh Sisir, Desa Bekutuk, sekitar pukul 03.00 WIB dini hari. Korban mengalami luka berat di bagian kepala dan dinyatakan meninggal di lokasi kejadian.

Sejumlah warga dan kepala desa di wilayah Randublatung menyebut korban diduga sengaja mendatangi rel kereta api.

Beberapa kepala desa di wilayah Randublatung, mengungkapkan bahwa korban belakangan disebut-sebut diduga tengah menghadapi banyak kebutuhan hidup dan beban utang.

“Memang ada Kadus Desa Bekutuk, yang meninggal. Informasi yang beredar, diduga sengaja menabrakkan diri ke kereta,” ujarnya, Rabu (28/1/2026).

Namun, pernyataan itu berseberangan dengan kesimpulan aparat. Kapolsek Randublatung, Iptu Sugiyanto, menegaskan bahwa tidak ditemukan indikasi tindak bunuh diri.

“Korban diketahui meninggalkan rumah sejak malam sebelumnya tanpa memberitahu keluarga. Dari hasil pemeriksaan dan keterangan pihak KAI, peristiwa ini dinyatakan sebagai kecelakaan,” tegasnya.

Jenazah korban dievakuasi oleh warga bersama petugas medis dan kepolisian sebelum diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.

Terlepas dari perbedaan persepsi soal penyebab kematian, satu fakta tak terbantahkan, perlintasan kereta api tanpa palang pintu di Randublatung kembali merenggut nyawa.

Lokasi kejadian merupakan salah satu titik rawan yang selama ini minim pengamanan, namun tetap dilalui kereta jarak jauh dengan kecepatan tinggi.

Peristiwa ini bukan hanya soal satu nyawa yang melayang, tetapi juga alarm keras bagi pemerintah daerah dan pemangku kebijakan. Selama perlintasan tanpa palang pintu dibiarkan, tragedi serupa akan terus berulang, entah disebut kecelakaan, kelalaian, atau akibat tekanan hidup yang tak pernah benar-benar ditangani.

(Redaksi/Hans)

error: Content is protected !!