BLORA, Blok7.id – Momentum Hari Buruh (May Day) di Kabupaten Blora tahun ini diwarnai dengan sebuah pesan terbuka yang menohok. Sosok pengamat sosial lokal, Mat Tohek, melayangkan “Surat Cinta” yang ditujukan khusus kepada Bupati, Wakil Bupati, DPRD, hingga Aparat Penegak Hukum (APH) Blora.
Meski dibungkus dengan bahasa yang santun, surat tersebut membawa kritik tajam mengenai kegagalan pemerintah daerah dalam menjaga kesejahteraan rakyat kecil dan menyediakan lapangan kerja di rumah sendiri.
Ironi Becak Ontel dan Juru Parkir yang Terlupakan
Dalam suratnya, Mat Tohek menyoroti potret memilukan di sudut-sudut jalan Bumi Mustika. Ia menyebutkan bahwa tukang becak ontel yang sudah berusia senja masih harus memeras keringat tanpa perlindungan kesejahteraan yang jelas dari pemerintah.
Tak hanya itu, pengelolaan juru parkir juga menjadi sasaran kritik. Mat Tohek mendesak agar para pekerja jalanan ini didata dan dirangkul secara resmi di bawah naungan pemerintah. Hal ini dianggap sebagai solusi ganda yakni, menertibkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus menjamin martabat dan kesejahteraan mereka yang selama ini dianggap sebagai “wajah ketertiban” kota namun seringkali terabaikan.
Investasi Langit: Menagih Logika Kesejahteraan Guru
Kritik paling tajam juga menyasar pada sektor pendidikan. Mat Tohek menyebut honor guru TK, RA, dan guru honorer di Blora saat ini berada pada level “tidak logis” jika dibandingkan dengan pengabdian mereka.
”Muliakan hidup mereka agar mereka bisa tenang mencerdaskan tunas-tunas bangsa,” tulisnya.
Pernyataan ini seolah menjadi pengingat bagi eksekutif dan legislatif bahwa kemajuan daerah tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik, tetapi dari bagaimana mereka menghargai para pendidik karakter.
Eksodus Tenaga Kerja: Blora Masih Jadi ‘Penonton’ Industri
Yang paling krusial, Mat Tohek menggugat iklim investasi di Blora. Ia mengaku “perih” melihat lulusan sekolah asal Blora yang setiap tahun harus melakukan eksodus massal ke kota-kota besar seperti Bekasi, Karawang, atau Surabaya untuk mencari kerja.
Ia mendesak kolaborasi antara Pemkab, DPRD, dan APH untuk menciptakan iklim investasi yang sehat dan bebas dari hambatan birokrasi maupun gangguan keamanan. Tujuannya jelas supaya, pabrik-pabrik berdiri di Blora sehingga pemuda daerah tidak perlu menjadi perantau demi sesuap nasi.
May Day Bukan Sekadar Kalender
Melalui surat ini, Mat Tohek menegaskan bahwa May Day seharusnya menjadi momen refleksi bagi para pemangku kebijakan. Ia mengingatkan bahwa di balik megahnya gedung-gedung pemerintahan di Blora, ada keringat rakyat kecil yang mendanai kebijakan tersebut.
”May Day adalah pengingat bahwa ada rakyat kecil yang berharap pada kebijakan yang pro-rakyat,” tegasnya dalam penutup surat tersebut, Rabu (29/4/2026).
Kini, bola panas ada di tangan para petinggi Blora. Akankah “Surat Cinta” ini hanya menjadi arsip di meja kerja, atau menjadi pemantik perubahan nyata bagi kesejahteraan buruh dan rakyat kecil di Kabupaten Blora?
