BLORA, Blok7.id – Audiensi proyek mobilisasi alat berat Pertamina di jalur Kradenan-Pilang kembali memantik ketegangan panas di ruang DPRD Blora. Tokoh Front Blora Selatan (FBS), Exy Wijaya, akhirnya buka suara terkait insiden adu argumen keras yang terjadi dalam forum tersebut.

Menurut Exy, suasana audiensi memang memanas hingga terjadi perdebatan terbuka antara dirinya, Iwan, dan Grek dengan pimpinan sidang DPRD Blora, Warsit. Bahkan meja rapat sempat digebrak sebagai bentuk protes terhadap ancaman penghentian forum audiensi.

“Kemarin suasana audiensi memang panas. Saya, Iwan, dan Grek sempat terlibat perdebatan keras dengan Bung Warsit. Kami sempat berdiri, dan meja pun sempat saya gebrak ketika ada ancaman audiensi akan ditutup,” tegas Exy Crot panggilan akrabnya, Jumat (22/5/2026).

Bagi Exy, ancaman menutup ruang audiensi di tengah masyarakat yang sedang menyampaikan keresahan merupakan bentuk arogansi kekuasaan terhadap suara rakyat.

“Bagi kami, ancaman menutup ruang audiensi di tengah rakyat menyampaikan keresahan adalah bentuk arogansi kekuasaan terhadap aspirasi warga,” lanjutnya.

Meski demikian, Exy menegaskan bahwa ketegangan tersebut bukan persoalan pribadi. Ia menyebut dirinya dan Warsit sama-sama berasal dari Blora Selatan, yang dalam kultur kesehariannya terbiasa berbicara keras dan beradu argumentasi tanpa menyimpan dendam.

“Ini bukan persoalan personal. Kami dan Bung Warsit sama-sama orang Blora Selatan. Kami terbiasa berbicara keras, terbiasa beradu argumen tanpa harus menyimpan dendam,” ujarnya.

Ia menilai demokrasi memang tidak pernah lahir dari ruang yang steril dari benturan kepentingan maupun suara-suara keras rakyat kecil.

“Demokrasi bukan ruang paduan suara, melainkan ruang benturan pikiran, benturan kepentingan, dan keberanian menyampaikan suara rakyat di depan kekuasaan,” katanya.

Menurut Exy, kemarahan masyarakat tidak muncul begitu saja. Ia menyebut keresahan warga lahir dari kondisi nyata yang mereka hadapi sehari-hari akibat proyek mobilisasi alat berat Pertamina.

“Kalau kemarin suara kami keras, itu karena keresahan rakyat memang tidak lahir dari bisik-bisik kekuasaan. Ia lahir dari gelapnya jalan tanpa penerangan, jembatan yang terancam, debu jalanan mobilisasi alat berat proyek, dan kegelisahan warga yang merasa sering diabaikan,” tandasnya.

“Kalau kemarin bung Warsit tutup sidang audiens, kami akan tutup jalan. Kalau Bojonegoro bisa ditutup artinya Blora juga bisa ditutup, sebelum semua tuntutan warga terpenuhi. Minggu depan akan di agendakan pertemuan lagi di Kantor Kecamatan Kradenan, dengan memanggil semua pihak yang terkait,” pungkas Exy Crot.

Sebelumnya, audiensi DPRD Blora juga diwarnai kritik tajam dari tokoh FBS lainnya, Grek dan Dwi Gondel. Mereka mempertanyakan lemahnya fungsi kontrol DPRD terhadap proyek industri besar yang melintasi wilayah selatan Blora, sekaligus menyoroti pola CSR Pertamina yang dinilai tidak mencerminkan rasa keadilan bagi masyarakat terdampak.

Dalam forum tersebut, Dwi Gondel bahkan menyebut Pertamina layaknya negara di dalam negara, karena memiliki kekuatan besar namun dinilai minim sensitivitas sosial terhadap rakyat kecil.

“Warga terdampak itu bukan pengemis,” tegas Dwi Gondel dalam audiensi yang berlangsung panas tersebut.

Ketegangan audiensi itu memperlihatkan jurang ketidakpercayaan yang semakin lebar antara masyarakat terdampak dengan perusahaan maupun pemerintah. Di satu sisi proyek strategis terus berjalan, namun di sisi lain warga merasa hak, ruang hidup, dan rasa keadilan mereka justru berjalan paling lambat.

(Redaksi/Hans)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!