BLORA, Blok7.id – Perjuangan menjaga hutan ternyata mampu menghadirkan berkah nyata bagi masyarakat. Hal inilah yang dirasakan warga Silayang, Desa Kutukan, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, sejak diterimanya Surat Keputusan (SK) Perhutanan Sosial Nomor 185/MENLHK/SETJEN/PSL.0/3/2023 dengan Penetapan Kawasan 149 yang dikelola oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Mulyo Raharjo.
Ketua KTH Mulyo Raharjo Silayang, Surationo, mengungkapkan bahwa sebelum adanya program Perhutanan Sosial, masyarakat sering mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, terutama saat musim kemarau panjang. Debit mata air menurun dan ketergantungan terhadap curah hujan membuat kebutuhan air rumah tangga maupun pertanian sering tidak terpenuhi secara optimal.
“Dulu masyarakat harus berjuang keras mendapatkan air bersih ketika kemarau tiba. Namun setelah kawasan hutan dikelola dengan baik dan sumber mata air dilindungi, manfaatnya mulai dirasakan oleh masyarakat. Kegiatan ini dimulai 15/6,” ujarnya, Kamis (18/6/2026).
Melalui legalitas Perhutanan Sosial yang diberikan pemerintah, KTH Mulyo Raharjo mendapatkan kesempatan sekaligus tanggung jawab untuk menjaga kelestarian kawasan hutan. Berbagai kegiatan konservasi dilakukan, mulai dari penanaman pohon, perlindungan daerah tangkapan air, hingga edukasi lingkungan kepada masyarakat.
Hasilnya kini mulai terlihat. Pasokan air bersih menjadi lebih stabil, risiko kekeringan berkurang, dan kebutuhan air untuk pertanian agroforestri semakin terjamin. Hutan yang dahulu hanya dipandang sebagai kawasan hijau kini menjadi sumber kehidupan yang nyata bagi masyarakat sekitar.

Yang lebih membanggakan, semangat menjaga hutan juga diwariskan kepada generasi muda. Mereka aktif terlibat dalam kegiatan reboisasi, patroli lingkungan, dan kampanye pelestarian sumber daya alam. Kehadiran generasi muda menjadi harapan besar agar keberlanjutan sumber air tetap terjaga untuk masa depan.
Menurut Surationo, menjaga hutan berarti menjaga kehidupan. Hutan bukan hanya kumpulan pohon, tetapi juga infrastruktur alami yang menyimpan dan mengalirkan air bagi masyarakat. Tanpa hutan yang lestari, sumber air akan semakin berkurang dan berdampak pada kehidupan banyak orang.
Meski demikian, tantangan masih dihadapi, mulai dari perubahan iklim, keterbatasan infrastruktur air, hingga kebutuhan penguatan kelembagaan kelompok tani hutan. Namun melalui sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan Perhutani, tantangan tersebut diyakini dapat diatasi bersama.
Program Perhutanan Sosial yang dijalankan KTH Mulyo Raharjo kini menjadi bukti bahwa pengelolaan hutan yang berkelanjutan mampu memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan.
Model ini diharapkan dapat menjadi inspirasi dan percontohan bagi desa-desa hutan lainnya di Indonesia.
“Pesan kami kepada generasi muda, jagalah hutan seperti menjaga masa depan kalian sendiri. Karena setiap pohon yang tumbuh hari ini akan menjadi sumber air dan kehidupan bagi generasi yang akan datang,” tandas Surationo penuh harap.
Dari Silayang, sebuah pesan penting disampaikan kepada bangsa, menjaga hutan bukan hanya tentang melestarikan alam, tetapi juga tentang memastikan air bersih, kesejahteraan masyarakat, dan masa depan generasi penerus tetap terjaga.
“Terimakasih kepada bapak Jundi Wasono sebagai pembina KTH Mulyo Raharjo Silayang, yang selama ini hasilnya bisa digunakan semestinya,” pungkas Surationo.
(Redaksi)
