Spread the love

Jakarta. Blok7.id – Anggota Komisi VII DPR RI Athari Gauthi Ardi menyoroti masih rapuhnya kemandirian finansial desa wisata.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Ia menilai banyak desa wisata kembali melempem setelah program pendampingan selesai atau usai euforia Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI).

“Saya lihat desa wisata itu rentan mengalami stagnasi setelah adanya program pendampingan dan ADWI berakhir. Jadi setelah ada event ini, (biasanya) desa wisatanya stagnan, gitu-gitu aja,” ujar Athari dalam Rapat Kerja dengan Menparekraf di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin (17/11/2025).

Menurut Athari, persoalan paling mendasar ada pada akses pembiayaan. Banyak kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dianggap tidak bankable sehingga permintaan kredit mereka kerap ditolak perbankan.

Keterbatasan agunan, laporan keuangan yang belum rapi, hingga legalitas yang belum beres jadi penghambat utama. Ia meminta Kemenparekraf memperkuat koordinasi lintas kementerian agar pembiayaan bagi pelaku pariwisata lokal bisa lebih inklusif.

Tidak hanya itu, Athari melihat kemampuan pelaku UMKM pariwisata dalam memanfaatkan teknologi digital dan kecerdasan buatan masih jauh dari ideal.

Ia menyebut masih ada kesenjangan besar antara tuntutan industri yang makin digital dan keterampilan talenta UMKM yang belum mampu beradaptasi. Banyak pelaku usaha sudah menjual produk ke luar negeri, tetapi justru pemasaran dalam negeri masih kurang optimal.

“Di sini masih banyak UMKM dan juga pengelola wisata yang kadang nggak punya perangkat yang memadai, keterbatasan biaya, keterbatasan pengetahuan untuk memanfaatkan teknologi AI dan digital,” jelasnya.

Athari mendorong UMKM untuk lebih terlibat dengan influencer lokal agar pemasaran jadi lebih maksimal. Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan AI untuk analisis pelanggan, personalisasi layanan, serta efisiensi operasional dengan biaya lebih ringan dibanding cara konvensional.

“(Namun), di sini mereka (pelaku UMKM) terkadang merasa agak mahal investasinya untuk bidang AI ini. Jadi, mereka sulit untuk memenuhi kebutuhannya, apalagi untuk UMKM yang kecil,” ungkap Politisi Fraksi PAN ini.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Athari meminta Kemenparekraf memperluas kolaborasi multisektoral dengan kementerian lain, seperti Kominfo dan Kemendikbud.

Ia juga mendorong kerja sama dengan perusahaan teknologi besar guna menghadirkan solusi dan pelatihan terkait AI, cloud computing, hingga sistem digitalisasi lainnya.

Di akhir penyampaiannya, Athari tetap memberi apresiasi pada Kemenparekraf.

“Selamat sekali lagi atas kinerjanya, Insyaallah pariwisata kita akan membaik ke depannya,” tutupnya.

error: Content is protected !!