BLORA, Blok7.id – Periode kedua kepemimpinan Bupati Arief Rohman, yang kini berpasangan dengan Wakil Bupati, Sri Setyorini (2026-2031), langsung tancap gas dengan memperkuat barisan pembantu khusus.
Pemerintah Kabupaten Blora secara resmi kembali mengaktifkan Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TP2D). Namun, sorotan tajam tertuju pada komposisi personel yang membengkak dibanding periode sebelumnya.
Jika pada masa Arief Rohman dan Tri Yuli Setyowati (2020-2025) tim ini hanya berkekuatan 11 orang, kini jumlahnya bertambah menjadi 14 orang. Belasan nama tersebut diketahui merupakan barisan orang terdekat dan pendukung setia sang penguasa, mulai dari politisi lintas partai hingga aktivis ormas.
*Dominasi Politisi dan Ring Satu*
Daftar 14 nama yang dilantik menunjukkan komposisi yang kental dengan nuansa akomodasi politik. Terdapat nama-nama politisi dari PKS dan PAN, hingga tokoh-tokoh yang memiliki kedekatan kultural dengan organisasi keagamaan besar.
Selain itu, wajah-wajah lama dari pensiunan birokrat (Setda dan Dinkominfo) serta elemen media dan aktivis kampus turut mengisi kursi strategis ini. Menariknya, dua personel lama, Sugianto (Muhammadiyah) dan Bambang AW, resmi terdepak dari lingkaran tersebut.
*Tugas Berat atau Sekadar Formalitas?*
Berdasarkan mandatnya, ke-14 anggota TP2D ini menginduk pada Bapperida (Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah).
Mereka memikul lima tugas krusial, di antaranya:
1. Memberikan rekomendasi strategis pelaksanaan RPJMD.
2. Koordinasi lintas perangkat daerah untuk program prioritas.
3. Analisis kebijakan dan identifikasi masalah pembangunan.
4. Memberi masukan inovasi kebijakan.
5. Memantau pelaksanaan pelayanan publik.
*Kritik Efektivitas dan Anggaran*
Penambahan jumlah personel ini memicu pertanyaan mengenai efektivitas kinerja birokrasi yang sudah ada. Dengan 14 orang tim ahli, publik mempertanyakan apakah perangkat daerah (OPD) dianggap kurang mumpuni dalam mengeksekusi program pembangunan, sehingga memerlukan pengawasan ekstra dari tim non-organik.
”Penambahan jumlah personel ini harus dibuktikan dengan hasil nyata, bukan sekadar menjadi wadah penampung tim sukses pasca-kontestasi,” ungkap salah satu pengamat kebijakan daerah di Blora.
Kini, beban pembuktian ada di tangan 14 nama tersebut. Apakah mereka benar-benar mampu mengakselerasi pembangunan Blora yang masih punya banyak pekerjaan rumah, atau justru hanya menambah panjang birokrasi dan beban koordinasi di lingkungan Pemkab Blora.
Daftar 14 Personel TP2D Blora Periode 2026-2031, antara lain :
1. M. Yunus Bakhtiar Rifai
(Sejarah + Budaya + NU )
2. Urip Daryanto
(Wartawan)
3. Chadziq Isnina
(Politisi PKS)
4. Eko Arifianto
(Aktifis Lingkungan)
5. Bondan Sukarno
(Pensiunan Setda)
6. Dalhar Muhammadun
(Sejarah + Budaya + NU)
7. Faiz Farichah
(Dosen Al Muhammad)
8. Wahyu Suryono Pratama
(Aktifis Kampus, Pemuda dan Olahraga)
9. Joko Handoyo
(Dosen)
10. Bambang Sulistya
(Pensiunan Setda)
11. Siswanto
(Politisi PAN)
12. Bambang Wijanarko
(Politisi PAN)
13. Joko Supratno
(Politisi)
14. Sugiyono
(Pensiunan Dinkominfo + Ormas Squad Nusantara).
(Redaksi/Hans)
Sumber : Blora Updates
Foto : Istimewa
