BLORA. Blok7.id – Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P(K), melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Blora, Rabu (22/4/2026).

Kunjungan ini untuk meninjau langsung pelaksanaan Active Case Finding (ACF) Tuberkulosis (TB) yang diintegrasikan dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Kegiatan tersebut dipusatkan di Desa Tunjungan, Kecamatan Tunjungan. Wamenkes turut didampingi Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Bupati Blora Arief Rohman, Wakil Bupati Hj. Sri Setiyorini, Forkopimda, Ketua TP PKK, hingga Kepala Dinkesda Kabupaten Blora.

Dalam agenda itu, Wamenkes meninjau sejumlah layanan mulai dari pengobatan gratis, konsultasi dokter, hingga pemeriksaan rontgen bagi masyarakat.

Bupati Blora Arief Rohman dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut. Ia menegaskan TB masih menjadi persoalan serius di daerahnya.

“Tuberkulosis atau TB masih menjadi tantangan kesehatan yang serius, baik di tingkat nasional maupun daerah. Oleh karena itu, percepatan eliminasi TB menjadi prioritas penting,” ucapnya.

Arief juga memaparkan tren kasus TB di Blora yang terus meningkat. Pada 2024 tercatat 1.485 kasus, sedangkan pada 2025 naik menjadi 1.676 kasus. Hingga saat ini sudah ditemukan 350 kasus positif.

“Kami mohon bimbingannya dalam penanganan nya, kami juga ingin mohon bantuannya, kami ada 3 RSUD semoga kami bisa dibantu dan meningkatkan bersama dalam pelayanan nya dan stunting dan lainnya kami juga mohon dibantu. Alhamdulillah sinergi provinsi, hingga pusat ini bisa meningkatkan,” terangnya.

“Dan sampai dengan hari ini, telah ditemukan 350 kasus positif TBC di Kabupaten Blora,” imbuhnya.

Ia menambahkan, Pemkab Blora juga telah menjalankan program Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), meski masih menghadapi sejumlah kendala di lapangan, terutama soal kesadaran masyarakat dan keterjangkauan layanan.

Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto menilai TB masih menjadi tantangan besar yang membutuhkan penanganan serius. Ia bahkan menyoroti posisi Indonesia dalam kasus TB dunia.

“TBC ini penyakit yang sulit disembuhkan, karena kebal dengan obat, bahkan ia punya membran yang kuat sehingga btuh pengobatan yang lama.

“Indonesia dulu rangking 3 yang pertama china, india dan Indonesia. Namun sekarang pada kasus ini sekarang Indonesia masuk negara no 2 setelah india,” ucapnya.

Edy juga meminta agar Blora bisa menjadi daerah percontohan dalam penanganan TB di Indonesia.

Di sisi lain, Wamenkes RI Benjamin Paulus Octavianus menegaskan komitmen pemerintah dalam percepatan eliminasi TB. Ia menyebut pentingnya kolaborasi semua pihak hingga tingkat daerah.

“Saya datang kesini agar semua bisa saling membantu, semua saling mengingatkan, jadi komitmen bersama dan suatu kebanggaan bagi kita jika Indonesia bebas dari TBC,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya penanganan cepat bagi pasien TB serta upaya pencegahan bagi keluarga yang kontak erat.

“Penderita TBC harus langsung diberi pengobatan secara rutin selama 6 bulan. Tak hanya itu, pihak keluarga si penderita juga harus diberi obat pencegahan agar tak tertular penyakit ini,” imbuhnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan skema penelusuran kasus yang dilakukan secara masif.

“Kita ingin TB ini berhasil di Blora, sehingga jika ada Masyarakat yang terdeteksi sakit TBC dapat segera diobati, Kontak serumah atau kontak erat yang tidak menunjukkan gejala dan hasil rontgen negatif akan diberikan TPT sebagai langkah pencegahan,” Pungkasnya.

Usai kegiatan, rombongan juga menyerahkan bantuan bedah rumah bagi pasien TB di Desa Sarimulyo, Kecamatan Ngawen, sebagai bagian dari dukungan penanganan dan pencegahan penyakit tersebut di tingkat masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!