BLORA, Blok7.id – Setiap pergantian musim kemarau ke penghujan, masyarakat Blora memiliki tradisi kuliner unik yang selalu dinanti, yakni berburu entung jati, atau ulat daun jati.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Hidangan musiman ini bukan hanya menjadi bagian dari kearifan lokal, tetapi juga dikenal memiliki kandungan protein tinggi yang bermanfaat bagi kesehatan.
Entung jati biasanya muncul saat daun jati mulai rontok dan tumbuh kembali. Pada periode ini, ulat jati berkembang biak dengan cepat dan mudah ditemukan di kawasan perhutanan jati yang tersebar di Kabupaten Blora.
Warga biasanya berangkat pagi-pagi membawa karung atau wadah kecil untuk mengumpulkan ulat yang menempel di daun maupun batang pohon.
Setelah dibersihkan, entung jati dapat diolah menjadi berbagai masakan, mulai dari digoreng renyah, tumis pedas, hingga dijadikan campuran sambal. Rasanya gurih dan teksturnya lembut, membuat hidangan ini digemari tidak hanya oleh warga setempat tetapi juga pengunjung dari luar daerah yang penasaran.
Menurut warga, Didik, entung jati bukan sekadar makanan tradisional, tetapi juga sumber gizi. Kandungan proteinnya yang tinggi menjadikannya alternatif pangan alami yang murah dan mudah diperoleh.
Beberapa penelitian lokal juga menyebutkan bahwa serangga hutan seperti entung jati mengandung nutrisi setara, bahkan lebih tinggi dibanding beberapa sumber protein hewani lain.
“Setiap tahun, kalau musim entung, saya pasti cari. Selain enak, juga bergizi. Anak-anak di rumah suka,” ujar Didik warga Kecamatan Blora kota, Sabtu (22/11/2025).
“Kemarin saya beli, untuk harga per kilo Rp125.000. Cukup lumayan, tapi tidak apa-apa, saya menikmati ini setahun sekali,” lanjutnya.
Kini, keberadaan entung jati juga mulai menarik perhatian sebagai komoditas kuliner khas daerah. Beberapa pelaku UMKM bahkan mengolahnya menjadi camilan siap saji yang dijual saat musimnya tiba.
Meski hanya hadir dalam waktu singkat setiap tahun, entung jati tetap menjadi bagian penting dari identitas kuliner Blora.
Kehadirannya bukan hanya memperkaya tradisi pangan lokal, tetapi juga menjadi bukti bahwa kearifan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam dapat menghadirkan makanan lezat sekaligus bernilai gizi tinggi. (Hans)
