BLORA, Blok7.id – Ketua DPC Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Blora, Shoifurrofiq, menegaskan perannya sebagai penengah dalam mediasi kasus dugaan salah tangkap terkait pembuangan bayi yang sempat memicu keresahan publik.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Mediasi tersebut digelar di Rumah Dinas Wakil Bupati Blora dan dihadiri unsur pemerintah daerah, kepolisian, tenaga kesehatan, hingga perangkat desa.
Shoifurrofiq menegaskan kehadirannya bukan untuk menghakimi atau mencari pihak yang salah, melainkan menjembatani persoalan yang terlanjur berkembang liar di ruang publik dan media.
“Saya hadir untuk meluruskan persoalan karena pemberitaan yang beredar tidak sepenuhnya sesuai fakta di lapangan. Tujuan saya satu, agar masalah ini selesai secara damai dan masyarakat Blora tidak terus resah oleh informasi yang belum tentu benar,” tegasnya, Kamis (18/12/2025).
Setelah melakukan koordinasi intensif dengan Polsek Jepon, Dinas Kesehatan Kabupaten Blora, dan Puskesmas Banjarejo, Shoifurrofiq menyampaikan bahwa seluruh pihak telah bekerja sesuai prosedur dan Standar Operasional Prosedur (SOP).
“Dari kronologi yang saya pelajari, aparat dan tenaga kesehatan sudah menjalankan tugas secara prosedural. Karena itu, saya ingin meluruskan agar Polres Blora dan Puskesmas Banjarejo tidak disalahpahami oleh publik,” jelasnya.
Mediasi tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan penting, termasuk pemulihan nama baik korban, jaminan bantuan pendidikan hingga jenjang Strata 1 (S1) setelah lulus SMA, serta kompensasi sebesar Rp50 juta.
Shoifurrofiq secara khusus mengapresiasi sikap Wakil Bupati Blora, Sri Setyorini, yang dinilainya menunjukkan empati dan kepedulian nyata terhadap masa depan korban.
“Alhamdulillah, Bu Wabup dengan legowo, penuh simpati dan empati, memberikan pengorbanan agar korban dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,” ungkapnya.
Meski menilai aparat telah bekerja sesuai aturan, Shoifurrofiq menegaskan kasus ini harus menjadi evaluasi bersama, terutama agar penanganan perkara ke depan lebih berhati-hati dan humanis.
“Ini bukan untuk menyudutkan siapa pun. Saya melihat Polres Blora punya komitmen menjalankan tugasnya. Namun ke depan, kehati-hatian ekstra sangat diperlukan agar kejadian serupa tidak terulang,” tambahnya.
Ia berharap peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh pihak agar setiap persoalan hukum ditangani secara profesional, berkeadilan, dan tidak menimbulkan keresahan sosial.
“Semoga ke depan kita semua lebih bijak dan berhati-hati dalam menyikapi setiap persoalan,” pungkasnya.
Dalam mediasi tersebut hadir Wakil Bupati Blora Sri Setyorini, Kapolres Blora beserta jajaran, Kapolsek Jepon, Kapolsek Banjarejo, Camat Banjarejo, Kepala Desa Sidomulyo, pihak Puskesmas Banjarejo, serta Ketua DPC PSI Blora. (Hans)
