BLORA, Blok7.id – Penanganan kasus dugaan perundungan dan kekerasan terhadap seorang siswa Sekolah Dasar di Kedungjenar, Kecamatan Blora Kota, hingga kini dinilai jalan di tempat.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Meski laporan telah masuk sejak November 2025, keluarga korban mengaku belum menerima informasi resmi terkait kelanjutan proses hukum.
Saat dikonfirmasi awak media pada Jumat (16/1/2026), orang tua korban menyatakan belum ada perkembangan berarti dari aparat penegak hukum.
“Dereng wonten kabar, wingi terose nenggo berkas naik ke kejaksaan,” ungkap Sulis, orang tua korban.
Padahal, keluarga sebelumnya telah memenuhi panggilan Unit PPA Polres Blora pada Senin (17/11/2025) untuk memberikan keterangan terkait dugaan kekerasan yang dialami anaknya di lingkungan sekolah.
“Iya, betul, saya memenuhi panggilan Polres Blora terkait laporan yang saya buat,” ujarnya.
Alih-alih mendapatkan perlindungan, korban justru mengalami tekanan mental berat. Keluarga akhirnya mengambil langkah drastis dengan memindahkan anak mereka ke SDN Kemiri 1 Jepon demi menyelamatkan kondisi psikologis korban.
“Alhamdulillah di SDN Kemiri 1 diterima dengan baik, gurunya baik, teman-temannya juga baik,” tutur Sulis.
Keputusan tersebut diambil setelah korban disebut mengalami insiden yang oleh keluarga diduga sebagai tabrak lari di lingkungan sekolah lama, hingga menyebabkan korban terjatuh dan mengalami patah kaki. Ironisnya, identitas pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut hingga kini tidak pernah jelas.
Kekecewaan keluarga juga mengarah pada sikap pihak sekolah lama yang dinilai abai dan minim empati. Bahkan, korban disebut sempat diposisikan seolah sebagai pihak yang bersalah.
“Katanya guru pahlawan tanpa tanda jasa, tapi kenyataannya sekarang berbeda,” ucap orang tua korban dengan nada getir.
Lebih memprihatinkan, selama hampir dua bulan pasca kejadian, korban disebut mengalami pengucilan di sekolah. Tidak ada perhatian serius terhadap kondisi fisik maupun mental korban, termasuk soal kelangsungan pendidikannya.
“Sampai 10 hari tidak ada perhatian soal belajar, tidak ditanya bagaimana kondisi anaknya,” keluhnya.
Keluarga juga menyoroti dugaan adanya oknum guru yang membela terduga pelaku, sehingga membuat kasus semakin kabur dan berdampak langsung pada trauma korban.
Hingga kini, keluarga masih menunggu kepastian proses hukum. Mereka mendesak Polres Blora dan pihak kejaksaan agar tidak membiarkan kasus dugaan kekerasan terhadap anak ini berakhir tanpa kejelasan.
“Anak saya jatuh sampai terluka dan patah kaki. Ini bukan hal sepele. Kami hanya ingin keadilan,” tegas orang tua korban.
Keluarga berharap aparat penegak hukum bertindak tegas dan transparan, serta memastikan siapa pun yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut diproses sesuai hukum yang berlaku.
(Redaksi/Hans)
