BLORA, Blok7.id – Kesabaran yang dirawat bertahun-tahun akhirnya berbuah manis di lereng Gunung Manggir, Desa Ngumbul, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. Ratusan pohon alpukat milik M. Saymuri, Ketua MWC NU Todanan, kini memasuki masa produktif dan langsung memberi nilai ekonomi nyata.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Dari panen perdana saja, kebun alpukat yang ditanam sejak 2019 itu mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp17 juta. Sebuah capaian yang lahir bukan dari modal besar, melainkan dari ketekunan dan konsistensi mengolah alam.
Kebun alpukat yang berada di ketinggian sekitar 300 meter di atas permukaan laut (MDPL) itu ditanami secara bertahap, menyesuaikan kondisi medan berbatu dan kemampuan modal.
Hingga kini, sekitar 200 batang pohon alpukat tumbuh subur, terdiri dari varietas bernilai jual tinggi seperti Alpukat Aligator, Kendil, dan Miki.
“Ini bukan soal cepat untung. Sejak awal saya niatkan sebagai investasi jangka panjang. Modal seadanya, tapi dirawat terus. Alhamdulillah, sekarang hasilnya mulai kelihatan,” ujar Saymuri dengan nada tenang sambil menunjukkan buah alpukat yang bergelantungan di pohon, Senin (19/1/2026) sore.
Tak hanya alpukat, lahan di lereng gunung itu juga ditanami petai, cabai, kencur, merica, dan pisang. Pola tanam campuran ini sengaja diterapkan untuk menjaga kesinambungan hasil sekaligus memaksimalkan potensi tanah pegunungan yang subur namun menuntut ketelatenan tinggi.
Perawatan kebun dilakukan secara sederhana namun rutin. Setiap bulan, tanaman dipupuk menggunakan pupuk kandang dan NPK 16-16. Menurut Saymuri, kunci keberhasilan bukan pada mahalnya perawatan, melainkan pada kedisiplinan.
“Kalau dirawat rutin, tanaman itu tahu sendiri kapan harus membalas. Yang penting sabar dan tidak ditinggal begitu saja,” tuturnya.
Lahir pada 15 September 1965, Saymuri dikenal sebagai tokoh NU tulen di Todanan. Selain menjabat Ketua MWC NU, ayah tiga anak ini tetap setia turun ke kebun. Baginya, bertani bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga ikhtiar menjaga alam sekaligus memberi teladan kemandirian bagi generasi muda desa.
“Anak-anak sekarang jangan takut bertani. Memang hasilnya tidak instan, tapi pasti. Alam tidak pernah ingkar kalau kita tekun,” pesannya.
Keberhasilan kebun alpukat di lereng Gunung Manggir ini menjadi bukti bahwa pertanian berbasis kesabaran dan konsistensi masih sangat relevan di tengah tekanan ekonomi dan minimnya minat generasi muda pada sektor tani.
Dari kerja sunyi di desa, lahir pesan sederhana namun kuat, ketekunan selalu menemukan jalannya untuk berbuah.
(Redaksi/Hans)
