Spread the love

BLORA, Blok7.id – Kisah hidup Irjen Pol Mardiyono, Kapolda Bengkulu, menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan. Lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 21 Maret 1969, Mardiyono tumbuh dalam keluarga sederhana yang harus berjuang keras demi bertahan hidup.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1991, satu angkatan dengan Kapolri, ini menapaki perjalanan panjang penuh liku sebelum akhirnya dipercaya memimpin Polda Bengkulu.

Masa Kecil Penuh Perjuangan

Cobaan hidup datang sejak dini. Pada usia empat tahun, Mardiyono kehilangan sang ibu. Bersama empat saudaranya, ia tinggal bersama nenek di rumah sempit berukuran 3×5 meter.

Sang nenek bekerja sebagai tukang cuci dengan upah Rp500 per hari, jumlah yang bahkan saat itu pun sangat terbatas untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Sejak usia tujuh tahun, Mardiyono kecil sudah membantu ekonomi keluarga. Ia menjajakan bubur buatan neneknya, membersihkan rumah tetangga, menjual air bersih, hingga menjadi petugas kebersihan pasar dengan upah Rp700 per bulan. Dalam keterbatasan itu, ia tak pernah meninggalkan sekolah.

“Kadang pulang sekolah tidak ada makanan, ya sekalian saja saya puasa Senin-Kamis,” kenangnya suatu ketika, Jumat (13/2/2026).

Meski sering menunggak biaya sekolah, semangatnya tak pernah surut. Sosok wali kelasnya, Bu Heni, menjadi malaikat penolong yang membantunya membayar biaya sekolah agar ia bisa mengikuti ujian.

Dari situlah ia belajar bahwa kebaikan sekecil apa pun dapat mengubah masa depan seseorang.

Tekad Kuat Menjadi Anggota Polri

Cita-cita menjadi anggota Polri tumbuh saat ia duduk di bangku SMA, terinspirasi oleh seniornya, Agus Andrianto, yang kini menjabat Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan. Dengan tekad kuat, ia mempersiapkan diri secara fisik, akademik, dan mental.

Ia menegaskan bahwa perjalanannya masuk Akpol adalah bukti bahwa menjadi anggota Polri tidak membutuhkan biaya, melainkan kerja keras, disiplin, dan integritas. Tahun 1991, ia resmi lulus dari Akpol dan memulai karier panjang di institusi kepolisian.

Karier dan Dedikasi di Kepolisian

Sebelum dipercaya menjadi Kapolda Bengkulu, Irjen Pol Mardiyono menjabat sebagai Kasespimma Sespim Lemdiklat Polri dan pernah menjadi Karo SDM Polda Metro Jaya. Ia dikenal memiliki kompetensi kuat dalam bidang pengembangan sumber daya manusia serta pembinaan personel.

Pengalaman panjangnya membentuk karakter kepemimpinan yang humanis, tegas, dan berorientasi pada pelayanan masyarakat.

Program Inovatif untuk Masyarakat

Sebagai Kapolda Bengkulu, ia menghadirkan berbagai program inovatif yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat.

  • Program SRIDURI (Setiap Hari Dua Ribu) mengajak setiap anggota Polri menyisihkan Rp2.000 per hari untuk kegiatan sosial. Dari program ini, telah terbangun puluhan rumah layak huni bagi warga kurang mampu di Bengkulu, lengkap dengan bantuan perabotan dan kebutuhan dasar.
  • Selain itu, ia menggagas program Sadesahe (Satu Desa Satu Hektare Jagung) untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Program-program tersebut lahir dari pengalaman hidupnya sendiri, ia memahami betul bagaimana rasanya hidup dalam kekurangan.

Kembali ke Kampung Halaman

Kepulangannya ke Blora pada Sabtu (22/11/2025) menjadi momen haru. Ia kembali bukan sebagai anak kecil penjual bubur, melainkan sebagai jenderal bintang dua. Namun, ia tetap rendah hati dan tidak melupakan akar perjuangannya.

“Jabatan adalah amanah, integritas adalah harga diri. Rawat tempat kamu bekerja, jaga nama baiknya. Mungkin itu tidak membuatmu kaya, tapi di situlah sumber kehidupanmu,” pesannya.

Inspirasi bagi Generasi Muda

Perjalanan Irjen Pol Mardiyono adalah pengingat bahwa latar belakang ekonomi bukanlah penentu masa depan. Kehilangan, kemiskinan, dan keterbatasan tidak menghentikannya. Justru dari situlah lahir ketangguhan, empati, dan semangat untuk berbagi.

Dari rumah 3×5 meter di Blora hingga memimpin Polda Bengkulu, kisahnya menegaskan satu hal, yakni mimpi besar hanya bisa diraih oleh mereka yang tidak menyerah pada keadaan.
Sebuah perjalanan hidup yang bukan sekadar cerita sukses, melainkan teladan tentang kerja keras, integritas, dan kepedulian terhadap sesama.

(Redaksi/Hans)

error: Content is protected !!