​BLORA, Blok7.id – Aliansi petani dan masyarakat kecil dipastikan tetap menggelar aksi ‘Tumpah Tebu’ di depan Pabrik Gula (PG) GMM Todanan pada 1 Juni 2026. Langkah ini diambil sebagai bentuk perlawanan konkret terhadap regulasi dan kebijakan industrial yang dinilai mencekik kesejahteraan petani tebu.

​Koordinator aksi, Exy Wijaya atau sering dipanggil Exi Crot menegaskan bahwa, koordinasi dengan Polres Blora dan jajaran TNI telah selesai. Aksi ini dipastikan berjalan legal, transparan, dan damai sesuai UU No. 9 Tahun 1998, di mana aparat bertindak sebagai penerima pemberitahuan dan pengawal konstitusi, bukan pemberi izin.

“​Aksi simbolik menumpahkan tebu merupakan protes keras atas bobroknya tata kelola internal, polemik utang, dan buramnya transparansi manajemen PG GMM Todanan yang mengorbankan petani kecil,” ungkapnya, Kamis (28/5/2026).

Lanjut Exy Crot, ​sebagai solusi taktis agar hasil panen tidak membusuk, kepolisian siap mengawal distribusi armada tebu petani Blora menuju sejumlah pabrik gula alternatif di luar daerah.

​Aksi yang bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila ini membawa misi historis membela kaum Marhaen melalui empat agenda utama:

  • ​Mimbar Bebas Petani
    Suara langsung dari akar rumput.
  • ​Teatrikal Sosial dan Orasi
    Simbolisasi tekanan ekonomi kaum agraria.
  • ​Aksi Simbolik Tumpah Tebu
    Protes visual atas gagalnya serapan industri lokal.
  • ​Pembacaan Tuntutan Agraria
    Manifesto tertulis mendesak perbaikan total PG GMM.

​”Ketika keringat petani tidak lagi dihargai dan suara masyarakat dibungkam oleh kapital, maka jalanan menjadi ruang suci kami untuk melawan!” tegas Exy Crot.

Momentum 1 Juni dipilih sebagai tamparan moral bagi pemangku kebijakan agar Pancasila di bumi Blora tidak sekadar menjadi jargon seremonial, melainkan diwujudkan dalam bentuk keadilan sosial yang nyata.

(Redaksi/Hans)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!